(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Asal Usul

SAAD BIN ABI WAQQASH, SANG PEMANAH ULUNG YANG MANJUR DOANYA

Sekitar 20 tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, Khalifah Utsman bin Affan mengirim delegasi untuk menyebarkan Islam di Tiongkok.

Sahabat Rasulullah, Sa’ad bin Abi Waqqash, menjalankan tugas tersebut dengan baik, bahkan, dia diterima Kaisar Gaozong, penguasa Dinasti Tang saat itu dengan tangan terbuka.

Mengutip buku ‘Sirah 60 Sahabat Nabi Muhammad’ karangan Ummu Ayesha, Sa’ad bin Abu Waqqash merupakan kerabat Rasulullah dari pihak ibu (Aminah). Karenanya, Rasulullah sendiri kerap memanggilnya dengan sebutan paman.

Pada awalnya, Sa’ad bin Abi Waqqas memeluk Islam pada usia 17 tahun, atau pada periode assabiqunal awwalun, yang dijanjikan surga. Meski masih berkerabat dengan Rasulullah, namun, bukan berarti Sa’ad bin Abi Waqqas memiliki kemudahan ketika memeluk Islam. Terlebih, ketika ibunya menolak Sa’ad masuk Islam dengan aksi mogok makan dan minum. Meski pada akhirnya, dengan kesabaran Sa’ad, sang ibu luluh.

Sebagai golongan awal yang masuk Islam, Sa’ad bin Abi Waqqas yang lahir pada 595 M itu, kerap memperkenalkan dirinya dengan mengatakan “Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam dan orang pertama yang melepaskan anak panah di Jalan Allah.”

Hal tersebut juga menjadi kebanggaan Rasulullah SAW. Terbukti ketika Rasulullah membanggakannya dengan menyebut, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!”.

Seiring waktu pengabdiannya di Islam, Sa’ad terkenal di berbagai pertarungan karena jasanya. Bahkan, dia dijuluki sebagai pemanah yang doanya selalu terkabul, terlebih, karena perannya dalam menaklukan Irak dan membebaskan Kota Kisra (Persia).

Kisah pemanah yang doanya kerap dikabulkan itu, tak terlepas dari permintaan Nabi Muhammad kepada Allah SWT. Qais, meriwayatkan hal tersebut, bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”

Dalam banyak peperangan, kisahnya tersebar, dari mulai orang pertama yang melepaskan anak panah di perang fisabilillah, berjuang di Perang Badar hingga membuka Perang Qadisiyah. Karena berbagai jasanya itu, dia juga pernah menjadi amir Kufah, meski akhirnya gelar itu dicopot.

Tak ada yang menyangkal perjuangan syiar dan peperangan Sa’ad yang mahsyur. Bahkan, perjuangannya menaklukan berbagai daerah, termasuk menjadi sahabat yang menyebarkan Islam di Tiongkok pada 651 H, ketika menjelang akhir hayatnya.

Perjalanannya ke Tiongkok yang berjalan mulus itu, dia mulai dengan percampuran kedua budaya. Dikatakan, pada saat itu, budaya Tiongkok telah jauh lebih maju dari daerah lainnya, termasuk Arab yang masih dalam proses pematangan.

Dalam perjuangannya, selain mendirikan Masjid, dia juga mendirikan komunitas Muslim. Yang kemudian, komunitas itu memainkan peran kunci dalam bidang perekonomian. Pasalnya, mereka menguasai perdagangan di Jalur Sutra dengan memegang berbagai pelabuhan besar.

Mengutip buku History of China karangan Ivan Taniputera, pada masa penyebaran awal Islam di Tiongkok oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, rombongan Muslim yang diterima dengan sangat baik diperbolehkan mendirikan tempat ibadah.

Bahkan, penguasa Dinasti Tang saat itu juga memperbolehkan Muslim untuk tidak melakukan penyembahan terhadap kaisar, karena dia paham Muslim tak diperkenankan menyembah manusia.

Upayanya dalam menyebarkan Islam di dataran Tiongkok, kini masih berjaya. Hal itu terbukti dengan bertahannya Masjid tua di Timur Tengah sana, Masjid Huaisheng, yang dibangunnya antara 627 M.

Masjid dengan luas lima hektare itu menjadi salah satu masjid tertua di Tiongkok. Bahkan, telah berusia ribuan tahun kini.

Selain dikenal sebagai Xian Xian Qingzhensi (masjid kehormatan utama), masjid tua itu juga disebut memiliki makam Sa’ad bin Abi Waqqash. Konon, Sa’ad bin Abi Waqqash menyebarkan Islam kepada masyarakat China hingga akhir hayatnya. Meski, ada versi lainnya yang menyebut bahwa Sa’ad wafat dan dimakamkan di Baqi.

Seiring perjuangan syiar Sa’ad bin Abi Waqqash, pemerintahan dan kekaisaran Tiongkok juga berganti. Begitu pula komunitas Muslim setelah meninggalnya Sa’ad yang kesulitan, terlebih karena banyaknya larangan dari Kekaisaran Dinasti Ming. Termasuk, larangan menyembelih hewan kurban dan larangan ibadah haji serta membangun masjid pada saat itu.(*/Tian)

orbit

Recent Posts

MYKAHURIPAN HADIRKAN DENGAN TAMPILAN BARU, SIAPKAN APRESIASI UNTUK PELANGGAN

CIBINONG – Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor terus memperkuat transformasi digital pelayanan pelanggan…

1 minggu ago

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

3 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

3 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

4 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

5 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

6 bulan ago