PELABUHAN PELABUHAN TUA MENJADI SAKSI AWAL KEHADIRAN ISLAM DI NUSANTARA
Sejak zaman dahulu, Nusantara dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam jalur maritim dunia. Letaknya yang strategis menjadikan wilayah kepulauan ini ramai didatangi para pedagang dari berbagai penjuru. Tak hanya membawa komoditas, terutama rempah-rempah, mereka juga turut membawa ajaran dan nilai keagamaan.
Dari pelabuhan-pelabuhan tua inilah, Islam kemudian mulai dikenal dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara.
Pelabuhan-pelabuhan Tua yang Menyimpan Jejak Islam di Nusantara
Melalui interaksi perdagangan yang didasarkan motif ekonomi, berikut adalah pelabuhan-pelabuhan tua yang menjadi saksi awal kehadiran dan persebaran ajaran Islam di Nusantara.
1. Pelabuhan Barus, Sumatera Utara
Barus merupakan sebuah kecamatan kecil yang terletak di daerah pantai barat Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Menukil dari buku Sejarah Pelabuhan Barus 1901-1983 dari Masa Kolonial Hingga Masa Orde Baru karya R. Fauzan As Meuraxa, Pelabuhan Barus merupakan pelabuhan kuno yang sudah ada sejak abad ke-10 M. Pelabuhan ini sudah banyak dikunjungi oleh para saudagar dari India, Timur Tengah, dan Persia.
Tercatat dalam buku Sejarah Masuknya Islam ke Bandar Barus yang ditulis langsung oleh putra daerah Barus, dijelaskan bagaimana hubungan dagang antarwilayah lepas laut Pantai Barat dan wilayah di luar Nusantara serta bagaimana datangnya Islam sampai ke Pelabuhan Barus.
2. Pelabuhan Samudera Pasai, Aceh
Merangkum buku Arkeologi Islam Nusantara karya Uka Tjandrasasmita, Kerajaan Samudera Pasai dikenal sebagai kota pelabuhan dengan barang dagang berupa lada, sutera, kapur barus, dan lainnya. Usai Malaka mengalami kekalahan dalam perang, Kerajaan Samudera Pasai menjadi makmur dan kaya lantaran didatangi para pedagang dari berbagai negara, seperti Turki, Arab, Persia, Gujarat, Roma, Bengal, Melayu, Jepang, hingga Siam.
Oleh karena adanya interaksi dagang ini, Kerajaan Samudera Pasai, terutama pelabuhannya, menjadi pusat proses islamisasi di Aceh.
3. Pelabuhan Malaka
Malaka telah berdiri sebagai kerajaan Islam pada awal abad ke-15 yang erat kaitannya dengan Kerajaan Samudera Pasai dalam bidang diplomatik dan ekonomi. Sejarah mencatat bahwa orang-orang yang berdagang ke kota Malaka berasal dari Kairo, Makkah, Persia, Turki, Gujarat, dan lain sebagainya.
Disebutkan pula bahwa pertumbuhan dan perkembangan Pelabuhan Malaka bersama dengan Pelabuhan Samudera Pasai di sepanjang selat memberikan pengaruh kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
4. Pelabuhan Sunda Kelapa
Dalam buku Dinamika Islam di Nusantara oleh Ahmad Zuhdi, dkk., penguasaan Islam atas Pelabuhan Sunda Kelapa dalam penyerangan yang dilakukan oleh tentara gabungan Demak, Cirebon, dan Banten menjadi upaya pembendungan pengaruh Portugis yang saat itu menduduki Malaka sejak tahun 1511. Atas penguasaan Pelabuhan Sunda Kelapa, pengaruh Portugis dapat disingkirkan dari jalur lalu lintas perdagangan internasional dan regional.
Dengan demikian, pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pesisir utara Jawa seperti Gresik, Sedayu, Tuban, Jepara, Demak, Cirebon, Jakarta, dan Banten menjadi pelabuhan yang ramai. Di pelabuhan-pelabuhan itu pula, banyak pedagang dari Arab, Timur Tengah, India, Tionghoa, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang melakukan kontak perdagangan.
Kondisi ini memungkinkan penyebaran agama Islam diperluas secara damai ke wilayah pedalaman seperti ke daerah Babadan, Kuningan, Indramayu, dan Karawang.
Dalam catatan sejarah ini, pelabuhan menjadi bagian yang sangat penting kaitannya dengan dakwah Islam ke seluruh wilayah Tanah Sunda yang didukung oleh motif perekonomian.(*/Dan)
