(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Kesehatan

AHLI SEBUT MASA KARANTINA COVID-19 CUKUP 5 HARI

JAKARTA – Ahli virologi kenamaan asal Jerman Christian Drosten mengatakan bahwa standar masa karantina Covid-19 selama dua pekan terlalu lama. Merujuk pada studi yang ia lakukan, seseorang tidak lagi menularkan virus setelah lima hari karantina.

Hal itu ia ungkap dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh radio Norddeutscher Rundfunk (NDR), yaitu stasiun radio dan televisi publik. Radio ini berbasis di Hamburg.

“Jadi itu (lima hari) seharusnya menjadi batas masa karantina,” kata Christian Drosten yang juga menjabat sebagai Kepala Virologi di RS Charité Berlin.

Drosten menilai, masa karantina yang lebih pendek akan lebih cocok untuk masyarakat. Menurutnya, lima hari masa karantina yang dia rekomendasikan tidak boleh digunakan untuk melakukan tes Covid-19.

“Lakukan tes setelah karantina untuk melihat apakah orang tersebut memang terinfeksi, dan apakah orang tersebut masih bisa menularkan virus,” kata Drosten seperti dilansir dari laman Fortune pada Kamis (3/9).

Drosten juga mengemukakan masalah lain yang berkaitan dengan pandemi Covid-19, termasuk penggunaan masker dan laporan tentang orang yang terinfeksi ulang. Dia mengatakan bahwa masker cukup efektif mencegah virus yang disebarkan melalui droplet, namun tidak efektif untuk mencegah virus dalam aerosol, partikel yang lebih kecil dari droplet berukuran lebih kecil dari 5 mikron.

Dia juga menepis penelitian di Hong Kong baru-baru ini yang menyatakan bahwa pria berusia 33 tahun yang kembali terinfeksi Covid-19 menjadi refresentasi kasus infeksi ulang pertama terhadap manusia yang terdokumentasikan. Menurut dia, kasus seperti itu masuk kategori langka yang seharusnya tidak ditafsirkan sebagai tanda buruk untuk pengembangan vaksin.

Di sisi lain, belum lama ini Menteri Kesehatan Jens Spahn Jerman menegaskan tidak akan menerapkan lockdown secara nasional untuk kedua kalinya, meski kasus Covid-19 melonjak. Menurut dia, pembatasan secara nasional tidak efektif mencegah penyebaran Covid-19. Sebelumnya pada Maret, Jerman pernah menerapkan lockdown secara nasional.

“Kami pasti tidak perlu melakukan ini secara nasional. Otoritas regional dapat menangani wabah. Kita bisa memasuki musim gugur dan musim dingin dengan percaya diri,” kata Spahn.(*/Tya)

orbit

Recent Posts

PULAU SUMATRA TITIK GERBANG AWAL JEJAK ISLAM DI NUSANTARA

Sumatera memegang peranan penting sebagai pintu gerbang utama masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kendati…

9 jam ago

KAMAR MANDI HOTEL SELALU TAK ADA KAYUNG, KENAPA?

JAKARTA - Pernahkah traveler memperhatikan, di dalam kamar mandi hotel biasanya tidak ada gayung. Kenapa…

9 jam ago

SEJUMLAH RESTORAN LARANG BERMAIN PONSEL, IMBALAN MAKANAN GRATIS

JAKARTA - Aturan makan tanpa sibuk main ponsel mulai diterapkan sejumlah restoran. Ada yang mengunci…

9 jam ago

TRAGIS, 500 RENTAL MOTOR DIKUASAI WNA, HANYA 5 BERIZIN SISA BODONG

DENPASAR - Penyewaan motor menjamur di Bali, tetapi banyak yang izinnya bodong. Pemprov Bali mencatat…

9 jam ago

KATARAK BISA MENYERANG YANG MUDA, INI FAKTOR RESIKONYA

JAKARTA - Katarak identik dengan penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Namun, anggapan bahwa katarak…

9 jam ago

JEJAK SEJARAH BATIK, KAIN BATIK SUDAH ADA DARI ZAMAN KERAJAAN

JAKARTA - Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan tersebut berkaitan dengan…

9 jam ago