(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
JAKARTA – Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan penting untuk mengetahui penanganan yang tepat jika muncul gejala Gastroesophageal Reflux Disease saat perjalanan mudik, terutama bagi yang masih menjalankan ibadah puasa.
“Ketika merasakan gejala GERD tetapi Anda masih berada dalam perjalanan dan kondisi berpuasa, lakukan langkah berikut untuk meredakan gejala,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (17/3/2026).
Langkah pertama yang disarankan adalah melonggarkan pakaian. Jika menggunakan ikat pinggang atau pakaian ketat, segera longgarkan karena tekanan pada perut dapat memperburuk aliran balik asam lambung.
Kedua, atur posisi duduk tetap tegak, tidak membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut agar gaya gravitasi membantu mencegah naiknya asam lambung.
Ketiga, lakukan pernapasan dalam dengan menarik napas melalui hidung dan mengembuskannya perlahan melalui mulut. Cara ini dapat membantu merelaksasi otot saluran cerna serta mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asam lambung.
“Jika kondisi tidak mereda dan muncul gejala berat seperti nyeri ulu hati hebat disertai muntah atau sesak napas, sebaiknya jangan memaksakan diri. Segera berbuka dengan air hangat dan konsumsi obat jika diperlukan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan untuk menghindari makanan dan minuman yang dapat memperburuk kondisi. Jika gejala tidak membaik, segera kunjungi unit gawat darurat rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Hal ini menjadi penting bagi pemudik untuk mengetahui lokasi fasilitas kesehatan di sepanjang jalur mudik yang dilalui.
GERD merupakan gangguan pencernaan ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan mengiritasi lapisan saluran pencernaan. Gejalanya meliputi rasa asam atau pahit di mulut (regurgitasi), sensasi panas di dada (heartburn), mual, muntah, begah, hingga nyeri dada dan gangguan pernapasan.
Selama perjalanan mudik, kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti makan terburu-buru saat sahur atau berbuka, konsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan, serta duduk terlalu lama yang meningkatkan tekanan pada perut. Selain itu, stres dan kelelahan juga dapat memperparah gejala.
Bagi penderita GERD yang tetap ingin berpuasa saat mudik, disarankan tetap makan sahur dengan menu karbohidrat kompleks dan tinggi serat dalam porsi cukup serta tidak terburu-buru saat makan.
Hindari pula makan berlebihan saat berbuka. Lebih baik mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi sering dibandingkan satu kali makan dalam jumlah besar.
Selain itu, jangan langsung berbaring setelah makan. Beri jeda minimal tiga jam sebelum tidur atau berbaring. Penting juga untuk mengelola stres dan beristirahat secara berkala di rest area selama perjalanan.(*/Ta)
Diviértete con sus miles de máquinas tragamonedas y disfruta de la emoción de los juegos…
JAKARTA- Selain membuat Anda dan pasangan merasa puas, ternyata berhubungan seksual memiliki segudang manfaat. Bukan…
JAKARTA - Dalam hukum perkawinan Islam, perceraian merupakan pintu darurat terakhir ketika keutuhan rumah tangga…
Sejak zaman dahulu, Nusantara dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam jalur maritim dunia. Letaknya…
JAKARTA - Pria yang lebih sering ejakulasi punya risiko lebih rendah terkena kanker prostat, sebut…
A continuación se muestran los principales tipos de juegos de tragamonedas que encontrarás en la…