(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Asal Usul

PEMBUNUHAN HABIL, MENGAPA ISLAM LARANG HILANGKAN NYAWA

Islam melarang menghilangkan nyawa siapapun.

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam.” (QS An Nisaa [4]: 93)

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (QS Al Maidah [5]: 32).

Tapi, mengapa ketika semakin berjarak dengan pembunuhan yang pertama di muka bumi tersebut, kami masih menanggung “beban” nafsu angkara pernah menjalari dirimu: membantai! Mungkin seperti kebanyakan kami pada masa kini, engkaupun Qabil merasakan superioritas menjalari tubuhmu, saat mencengkeramkan tanganmu ke tubuh saudara sendiri. Bukankah hawa nafsu yang merasuk raga, menyebabkanmu merasa (kuat) mudah untuk membunuh Habil.

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.” (QS Al Maidah [5]:30). Merasa diri superior, merupakan ambang (nafsu) keangkaraan.

Lihatlah betapa kerap kita menyaksikan pribadi superior yang gagal dibendung dengan keimanan, menyebabkan seseorang mempertuhan dirinya. Firaun menjadi contoh terbaik. Superioritas yang kelewat megah, sejatinya berakar dari penyimpangan psikologis (mereka justru merupakan pribadi yang lemah dan sunyi sehingga menyelimuti dirinya dengan kemegahan ilusi dan superioritas). Di zaman Yunani maupun Rumawi kuno, masyarakat mempercayai roh jahat yang merasuk dan menguasai seseorang, menimbulkan penyimpangan psikologis (Davidoff, 1981).

Psikologi modern mengistilahkannya sebagai bentuk penyimpangan psikologis. Maka penyimpangan psikologis, seperti menjadi pribadi yang terlampau memuja diri sendiri, menyebabkan Hitler melakukan genoside (pembersihan etnis) terhadap Yahudi. Yahudi yang di dalam Alquran pun dicitrakan sebagai ras degil dan licik, membuat Hitler memandang hina Yahudi ketika mengagungkan rasnya.

Sejarah mencatat, Hitler yang menggunakan kekuatannya, menyebabkan Yahudi menjadi penduduk bumi tanpa negeri. Mereka diburu seperti tikus hingga ke ujung selokan. Hitler tidak sendirian. Phibul Songkram, membekal ilusi keagungan diri dan ras, ketika bertahta di Thailand pada 1938.

Melalui kebijakan Thai Ratanium (negara Thailand untuk rakyat Thailand), Phibul melakukan siamisasi terhadap ras Melayu Muslim di wilayah selatan Thailand. Mereka tidak boleh menggunakan nama-nama Muslim, bahkan, adat istiadat Islam. Ilusi kemegahan Siam, menyebabkan Phibul memperhina Melayu Muslim dengan menyuruh mereka menyembah patung.

Siapapun yang menentang dihukum pancung. Superioritas pun menggenangi wilayah keagamaan. Tidak mengherankan, mereka yang menjadi mayoritas akan menumbuhkan citarasa superior, sehingga meminggirkan kelompok minoritas.

Maka kelompok ras dan bangsa yang tidak mampu mengawal superioritasnya, membasmi kelompok ras-bangsa yang tidak sama dengannya. Hitler maupun Phibul dengan penyimpangan psikologisnya ada di mana-mana. Lihatlah: dengan motif tidak senang melihat Islam, mayoritas penduduk dan pemerintah Myanmar menindas masyarakat minoritas Islam di negeri itu pada 1930-an hingga sekarang.(*/Di)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago