(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Histori

SUNAN GUNUNG JATI, RAJA YANG SUKA BLUSUKAN BERKELILING UNTUK BERDAKWAH

JAKARTA – Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah, salah satu ulama sekaligus raja atau sultan yang diberi gelar wali oleh masyarakat. Dalam banyak kisahnya, Sunan Gunung Jati setelah menjadi raja atau sultan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ulama atau guru agama Islam pada masanya.

Sehubungan dengan itu, Sunan Gunung Jati sering melakukan perjalanan blusukan ke berbagai daerah pedalaman untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat. Sementara, urusan pemerintahan dititipkan kepada anaknya.

Dijelaskan dalam buku Biografi Sunan Gunung Jati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda yang ditulis Wawan Hernawan dan Ading Kusdiana diterbitkan LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020, di antara pokok perjuangan yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati adalah memberikan pemahaman tentang ajaran agama Islam yang terdapat dalam Alquran dan hadits sebagai sumber ajaran agama Islam.

Permasalahannya adalah bagaimana Alquran dan hadits bisa dipelajari dan dipahami oleh masyarakat di wilayah Tanah Sunda. Tentunya hal ini dapat dilakukan dengan berusaha mengenalkan dan menyebarkan agama Islam kepada seluruh masyarakat di Tanah Sunda.

Dengan diterima dan dipeluknya agama Islam oleh masyarakat di Tanah Sunda, maka dengan sendirinya masyarakat di Tanah Sunda akan mengenal ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan hadits. Dengan demikian, masyarakat Tanah Sunda secara perlahan-lahan tapi pasti bisa mengerti dan memahami Alquran dan hadits.

Sebagai realisasi dari pemikiran itu, langkah awal yang dilakukan Sunan Gunung Jati adalah melakukan dakwah Islam di Cirebon dan ke berbagai daerah pedalaman di Tanah Sunda yang dipimpin langsung oleh Sunan Gunung Jati. Cirebon merupakan pusat yang mengkoordinasi kegiatan dakwah tersebut.

Sejak 1528, Sunan Gunung Jati mencurahkan perhatian dan tenaga sepenuhnya dalam bidang dakwah agama Islam. Tugas-tugas dalam bidang kenegaraaaan diserahkan kepada putranya dan kemudian menantunya.

Dalam rangka melaksanakan dakwah, Sunan Gunung Jati sering melakukan perjalanan keliling atau mengirim utusan ke daerah-daerah pedalaman. Beberapa daerah pedalaman yang pernah dikunjungi Sunan Gunung Jati adalah Luragung, Kuningan, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Ukur, Cibalagung, dan Kluntungbantar (Pagadingan, Idralaya, Batulayang, dan Timbanganten, Tasikmalaya, Sumedang, Cangkuang (Garut), Tatar Ukur (Bandung), dan Cianjur.

Seperti diketahui bahwa sejak 1470, Cirebon berkembang menjadi pusat kegiatan penyebaran dan pendidikan Islam dengan Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin dan gurunya. Sejak ditugaskan oleh Sunan Ampel sebagai guru agama Islam di Bukit Sembung Cirebon, Sunan Gunung Jati langsung menjadi guru agama. Ia kemudian diangkat oleh masyarakat sebagai kepala daerah setempat untuk memimpin daerah tersebut.

BACA JUGA: Benarkah Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati Keturunan Tionghoa?

Pada 1479, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah diresmikan oleh Raja Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran menjadi kepala daerah Cirebon dengan pangkat Tumenggung dan gelar Susuhunan Jati. Tidak lama setelah itu, Susuhunan Jati memutuskan untuk berdiri sendiri, tidak lagi menginduk kepada Kerajaan Sunda.

Selanjutnya, Sunan Gunung Jati diberi kekuasaan oleh para wali menjadi penata agama Islam atas wilayah seluruh Tanah Sunda dengan berkedudukan di Cirebon. Kedudukan Susuhunan Jati di Cirebon menjadi raja-pendeta.

Sejak 1528, Susuhunan Jati berkeliling ke pelosok-pelosok Tanah Sunda untuk menyebarkan agama Islam ke segenap lapisan masyarakat. Kedudukannya sebagai penguasa diwakilkan kepada putranya yang bernama Pangeran Pasarean.(*/Tian)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago