(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Asal Usul

TEGURAN NABI ISA AS TERHADAP AHLI IBADAH YANG TAK MAU BEKERJA MENCARI REZEKI

Allah SWT menjadikan alam dunia dan seluruh isinya sebagai tempat manusia berusaha mencari nafkah dan ladang beramal. Sedangkan alam akhirat merupakan tempat diberikannya balasan atas semua usaha manusia selama di dunia.

Ulama bergelar Hujjatul Islam Zainuddin Al Thusi yakni Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin meriwayatkan kisah pertemuan Nabi Isa Alaihissalam dengan ahli ibadah yang tidak mau mencari rezeki di dunia.

Suatu ketika Nabi Isa Alaihissalam bertemu dengan seorang laki-laki yang asing. Nabi Isa bertanya kepada laki-laki itu, “Apa pekerjaanmu?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku hanya beribadah kepada Allah SWT saja.”

Nabi Isa bertanya kembali, “Siapa yang menanggung kebutuhan hidupmu sehari-hari?”

Laki-laki itu pun menjawab, “Saudaraku.”

Kemudian, Nabi Isa bersabda, “Saudaramu itu lebih banyak ibadahnya dalam penilaian Allah SWT daripada apa yang sudah dirimu lakukan.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Janganlah karena ditundanya waktu perolehan dan hasil yang sedikit dalam mencari rezeki itu menjadikan kalian tidak sabar hingga terdorong untuk melakukan usaha yang mudah dengan cara-cara haram yang terlarang. Sebab, melanggar ketentuan Allah SWT justru akan membawa pelakunya kepada dosa dan kehinaan atas diri sendiri.

Di samping itu, tidak tersedia keberkahan dari sisi Allah SWT atas hasil yang didapat dengan cara-cara melanggar aturan yang telah ditetapkan-Nya.” (Diriwayatkan Imam Abu Ibnu Abu Al Dunya dan Imam Al Hakim dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahuanhu).

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang mencari penghidupan dengan mengumpulkan kayu bakar, lalu diikatkan pada punggungnya untuk kemudian di jual di pasar, jauh lebih baik daripada mengemis (minta-minta) kepada orang lain, baik diberi maupun tidak.” (Diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Luqman Al Hakim pernah berpesan kepada putranya, “Wahai anakku, hendaklah engkau merasa kaya dengan usaha yang halal atas kemiskinan yang tengah menderamu. Sesungguhnya kemiskinan akan menimpa pada tiga perkara, yaitu karena tipisnya keimanan atau lemahnya pengetahuan agama, disebabkan lemah akalnya, dan menjadi hilang kehormatan diri karenanya. Di samping itu, kemiskinan yang terbesar dari ketiga perkara tersebut adalah, manusia yang memandang tidak berarti (tidak benar-benar memperhatikan) terhadap tiga perkara yang dimaksud.”

Sayidina Umar bin Khattab Radhyialahu anhu pernah mengatakan, “Janganlah kalian duduk berpangku tangan dari mencari rezeki yang halal, dan hanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki.’ Ketahuilah bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas maupun perak.(*/Da)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago