(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Berita Orbit

WISATA KE CANDI SUKUH , MAMPIR DI AIR TERJUN JUMOG

KARANGANYAR – BERWISATA ke Candi Sukuh, ibarat mengunjungi candi yang paling erotis di Pulau Jawa. Letaknya di Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, sekitar 36 km sebelah timur kota Solo (Surakarta).

Selain candi yang mempunyai banyak keunikan ini, jangan juga lupa mampir ke Candi Cetho yang jaraknya sekitar 7 km masih sama sama di lereng barat Gunung Lawu dan dalam Kabupaten Karanganyar, namun beda kecamatan yaitu kecamatan Jenawi.

Dari Candi Sukuh turun dulu kemudian menanjak lagi dan naik turun berliku liku. Setelah kebon teh, di kiri kanan sebagian ditanami sayur mayur di antaranya kebon asparagus.

Sering tampak angkutan pedesaan membawa sayur mayur, seperti kentang, wortel dan kol mapun asparagus. Letak candi Cetho lebih tinggi dibanding Candi Sukuh, yaitu sekitar 1400 meter di atas permukaan air laut.

Pintu gerbangnya mirip pura pura di Bali dengan candi bentar atau candi yang terbelah. Di sebelah kanannya ada pemancar radio swasta.

Kedua candi ini ada persamaannya yaitu sama-sama dibangun setelah runtuhnya kerajaan Majapahit abad ke- 15. Juga terdapat patung, atau relief sepasang alat vital lelaki dan perempuan dengan istilah sejarahnya “lingga” dan “yoni” , lambang kesuburan. Bedanya, candi Sukuh lebih tua dibanding Cetho dan sudah jarang digunakan sebagai tempat ritual agama Hindu seperti Candi Cetho.

Sekarang pengunjung Candi Sukuh dan Candi Cetho kian meningkat dibanding 5 tahun lalu. Kalau dulunya hanya sekitar 50-an sehari, kini bisa mencapai 100 orang lebih. Peningkatan pengunjung tersebut akibat pengaruh munculnya tempat wisata baru di Desa Sukuh yang disebut Grojogan Jumog.

Lokasinya hanya beberapa ratus meter di bawah Candi Sukuh. “Jadi bila wisatawan mau ke air terjun Jumog sekalian mengunjungi Candi Sukuh atau sebaliknya,” ujar Utomo.

Tinggi air terjun tersebut sekitar 60-an meter. Sering tampak pelangi bila sinar matahari menembus jurang yang indah ini. “Kata orang, Grojogan Jumog kini lebih populer dibanding Grojogan Sewu di Tawangmangu,” tambahnya, awal Februari lalu.

Hal ini diakui Nur Fitri Febriani, siswi klas 3 SMP Negeri 2 Sragen yang baru bulan lalu mengunjungi tempat wisata itu sekaligus mampir ke Candi Sukuh dan Candi Cetho. Bersama teman sekolah maupun bersama ayah ibu dan eyangnya, Fitri sudah sedikitnya 3 kali ke candi tersebut. Soalnya tempatnya relatif dekat dengan Sragen, kota tempat tinggalnya.

Dari data yang dikutip dari media online Pemerintah Kabupaten Karanganyar, di kabupaten ini tidak sedikit obyek obyek wisata yang menjadi destinasi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Selain beberapa candi peninggalan sejarah, juga perkebunan teh dan keindahan alam seperti air terjun juga menjadi andalan pariwisata daerah ini.(*/Gio)

Redaksi

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago