Asal Usul

3 SAHABAT NABI SAW TENTANG MENJAGA LISAN, AGAR TAK SEMBARANGAN BICARA

LISAN yang tidak terjaga dapat memicu pertengkaran, merusak hubungan, menimbulkan kebencian, bahkan menyebabkan seseorang terjerumus dalam dosa. Di tengah kehidupan modern, menjaga lisan juga berlaku ketika seseorang berkomunikasi melalui media sosial. Tulisan, komentar, unggahan, maupun pesan yang berisi hinaan dan celaan tetap dapat melukai orang lain. Berikut kisah sahabat Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam yang sangat pandai menjaga lisannya. Kisahnya sangat inspiratif dan banyak pelajaran dan hikmah bagi umat Nabi SAW di zaman ini.

1. Abu Hurairah, Berhati-hati Sebelum Berbicara Abu Hurairah merupakan salah satu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis. Di samping keluasan ilmunya, ia juga dikenal sebagai sosok yang memperhatikan perkataan. Sikap tersebut mengajarkan bahwa banyak berbicara bukan ukuran kemuliaan seseorang. Seorang Muslim justru perlu mempertimbangkan manfaat setiap perkataan yang hendak disampaikan.

Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Rasulullah agar seorang mukmin berkata baik atau memilih diam. Dari teladan Abu Hurairah, seorang Muslim dapat belajar untuk tidak terjebak dalam pembicaraan yang sia-sia. Tidak semua persoalan harus dikomentari dan tidak setiap perkataan orang lain harus dibalas. Baca juga: Lisan Bisa Menjerumuskan, Begini Pesan Rasulullah kepada Umatnya Diam dalam kondisi tertentu justru dapat menjadi bentuk kehati-hatian agar seseorang tidak terjerumus ke dalam dosa lisan.

2. Umar bin Khattab, Menyesal karena Perkataan yang Tidak Perlu Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang tegas, pemberani dan memiliki perhatian besar terhadap kemaslahatan umat. Namun, ketegasan tersebut tidak membuat Umar bebas berbicara tanpa pertimbangan. Ia memahami bahwa perkataan memiliki konsekuensi dan dapat memberikan pengaruh besar kepada orang lain. Sikap Umar mengajarkan bahwa seseorang harus mampu mengendalikan diri sebelum berbicara.

Sebab, perkataan yang tidak perlu dapat menimbulkan penyesalan setelah terucap. Terlebih ketika seseorang berada dalam posisi yang memiliki pengaruh terhadap orang lain. Perkataan seorang pemimpin, tokoh, orang tua maupun siapa pun yang menjadi panutan dapat memberikan dampak yang lebih besar. Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara merupakan bagian dari akhlak yang harus dijaga.

3. Aisyah, Bijak Memilih Perkataan Aisyah merupakan salah satu istri Rasulullah yang dikenal memiliki kecerdasan, keluasan ilmu dan kemampuan menjelaskan berbagai persoalan agama.
Sebagai seorang periwayat hadis dan tempat bertanya para sahabat, Aisyah memberikan teladan bahwa berbicara juga membutuhkan kebijaksanaan. Menjaga lisan bukan berarti seseorang harus selalu diam. Dalam Islam, berbicara untuk menyampaikan ilmu, memberikan nasihat, meluruskan kesalahan dan menyampaikan kebenaran merupakan perbuatan yang memiliki nilai kebaikan. Yang harus dihindari adalah perkataan yang tidak memiliki manfaat atau justru membawa kerusakan. Karena itu, kebijaksanaan dalam berbicara terletak pada kemampuan memilih kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya menahan diri.

Diam Bukan Berarti Tak Peduli Dari berbagai teladan para sahabat tersebut, dapat dipahami bahwa menjaga lisan tidak berarti seseorang harus kehilangan keberanian untuk berbicara. Seorang Muslim tetap dianjurkan menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan. Namun, semua itu harus dilakukan dengan perkataan yang tepat, santun dan tidak menyakiti tanpa alasan yang dibenarkan. Rasulullah telah memberikan pedoman yang sangat sederhana: berkata baik atau diam. Pedoman tersebut semakin penting diterapkan di era media sosial.

Jari yang mengetik komentar pada dasarnya merupakan sarana untuk menyampaikan perkataan. Karena itu, seseorang perlu berpikir sebelum menulis sesuatu yang dapat merendahkan, mempermalukan atau menyakiti orang lain. Jangan sampai sebuah kalimat yang ditulis dalam beberapa detik justru menjadi sumber dosa yang panjang. Menjaga lisan pada akhirnya bukan hanya tentang menghindari kata-kata kasar.

Lebih dari itu, menjaga lisan merupakan bagian dari menjaga iman, kehormatan diri dan hubungan dengan sesama. Para sahabat Nabi telah memberikan teladan bahwa setiap perkataan layak dipertimbangkan. Jika membawa manfaat, sampaikan dengan baik. Jika justru berpotensi mendatangkan keburukan, diam dapat menjadi pilihan yang lebih selamat. Semoga Allah menjaga lisan kita dari kebohongan, ghibah, fitnah, celaan dan perkataan sia-sia serta membimbing kita untuk selalu mengucapkan kalimat yang membawa kebaikan.(*/Dan)

Tinggalkan Balasan