(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Gaya Hidup

HADAPI NEW NORMAL, ORANG TUA HARUS SIAPKAN MENTAL ANAK

JAKARTA – Bukan hanya orang dewasa yang harus siap menghadapi new normal. Anak-anak pun harus disiapkan fisik dan mentalnya untuk menghadapi normal baru.

Banyak masyarakat mengira bahwa new normal berarti virus corona sudah lenyap dari muka bumi. Padahal, new normal yang tepat adalah penyesuaian gaya hidup dalam rangka mengendalikan transmisi Covid-19. Menurut WHO setidaknya ada enam syarat yang membolehkan suatu negara masuk ke era new normal.

Yang pertama, angka kejadian kasus Covid-19 bisa dikendalikan atau turun. Sementara di Indonesia, selalu ada peningkatan kasus baru yaitu 850 per hari. “Grafik kita masih naik, bahkan puncaknya saja belum,” kata dr. Melia Yunita, M. Sc, Sp. A dalam Instagram Live dengan judul Persiapan Anak Untuk New Normal, Minggu (14/6/2020).

Kedua, Semua masyarakat harus bisa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan jaga jarak, dimana kebiasaan ini juga belum ada di masyarakat kita. Yang ketiga, kapasitas sistem kesehatan mampu untuk mendeteksi, menguji, mengisolasi, dan menangani setiap kasus, serta menelusuri kontak.

“Disini untuk PCR dan swab makan waktu bisa sampai tujuh hari. Jadi artinya new normal kita adalah karena alasan ekonomi bukan karena penyakitnya sudah selesai,” tegas dr. Melia.

Ia berharap agar orangtua memahami sepenuhnya hal ini dan tidak menghilangkan kewaspadaan terhadap Covid19. Dr. Melia mengingatkan agar PHBS selalu diterapkan pada anak, dengan mengajak cuci tangan, serta menerapkan etika batuk. Yaitu menutup dengan tisu atau sapu tangan, ataupun bagian dalam siku ketika batuk/bersin.

Dan jangan lupa pemakaian masker.

Namun pemakaian masker tidak dianjurkan untuk anak dibawah dua tahun. Mengingat saluran napas anak masih sempit dan khawatir malah akan menghambat napas sehingga menjadi sesak, selain itu dikhawatirkan juga ada bahaya sufokasi/rasa seperti tercekik yang membuat bayi merasa tidak nyaman.

Disamping itu, pemakaian masker untuk anak dibawah dua tahun dipandang tidak efektif sebab anak masih suka memegang wajah.

Karenanya orangtualah yang harus rajin mencucikan tangan si kecil dan menerapkan PHBS. Kebiasaan merokok bagi orangtua sebaiknya dihentikan. Selain membahayakan anak (anak berpotensi batuk/pilek), ada penelitian bahwa merokok akan memperberat dan meningkatkan insidensi Covid19. Imunisasi tidak boleh dilupakan.

Sayangnya, banyak orangtua yang khawatir ke rumah sakit untuk imunisasi anak lantaran virus corona. “Masalahnya jika tidak vaksin pandemiknya bukan Covid-19 lagi tapi penyakit lain. Tahun depan bisa saja muncul difteri, campak, polio dan menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa). Maka itu yang sudah menunda vaksin segera divaksin anaknya,” ingat dr. Melia.

Dibenarkan dr. Theressia Handayani, orangtua khawatir mengajak anak vaksin tapi malah mengajak ke supermarket padahal ini lebih berbahaya. “Kalau takut ke rumah sakit bisa pilih rumah vaksin misalnya, yang penting anak segera divaksin dan tidak ditunda,” imbuh dr. Theressia yang juga seorang vaksinator.

Ia juga menyinggung vaksin influenza, meski bukan untuk mencegah Covid19, namun tetap perlu diberikan.

Perlu diketahui, komplikasi terberat dari Covid-19 adalah pneumonia (radang paru), nah IDAI merekomendasikan untuk melengkapi semua vaksin yang berhubungan dengan pneumonia seperti PCV, influenza, PCV, MMR, Hib, dan vaksin Campak. Sebelumnya, jika ada pasien pneumonia dokter tidak berpikir bahwa itu adalah Covid19.

Sekarang, semua pasien yang pneumonia dinyatakan PDP

Selain vaksinasi, tentunya asupan nutrisi juga harus menjadi perhatian orangtua. Pemberian vitamin sangat disarankan untuk menangkal Covid19 terutama vitamin A, C, D, dan zinc. Dr. Melia mengatakan, ada riset yang mengungkap, kadar vitamin D pada pasien Covid-19 ternyata rendah. Selama ini kita berpikir, hidup di daerah tropis maka tidak lagi membutuhkan vitamin D.
“Ternyata ada penelitian, tipe orang Asia sebanyak 80% memiliki kelainan gen untuk menyerap matahari dan merubahnya menjadi vitamin D. Saya sendiri sudah diperiksa genomiknya dan hasilnya ada kelainan gen (untuk menyerap vitamin D) makanya harus pakai suplemen,” pungkasnya.(*/Nia)

orbit

Recent Posts

PULAU SUMATRA TITIK GERBANG AWAL JEJAK ISLAM DI NUSANTARA

Sumatera memegang peranan penting sebagai pintu gerbang utama masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kendati…

2 jam ago

KAMAR MANDI HOTEL SELALU TAK ADA KAYUNG, KENAPA?

JAKARTA - Pernahkah traveler memperhatikan, di dalam kamar mandi hotel biasanya tidak ada gayung. Kenapa…

3 jam ago

SEJUMLAH RESTORAN LARANG BERMAIN PONSEL, IMBALAN MAKANAN GRATIS

JAKARTA - Aturan makan tanpa sibuk main ponsel mulai diterapkan sejumlah restoran. Ada yang mengunci…

3 jam ago

TRAGIS, 500 RENTAL MOTOR DIKUASAI WNA, HANYA 5 BERIZIN SISA BODONG

DENPASAR - Penyewaan motor menjamur di Bali, tetapi banyak yang izinnya bodong. Pemprov Bali mencatat…

3 jam ago

KATARAK BISA MENYERANG YANG MUDA, INI FAKTOR RESIKONYA

JAKARTA - Katarak identik dengan penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Namun, anggapan bahwa katarak…

3 jam ago

JEJAK SEJARAH BATIK, KAIN BATIK SUDAH ADA DARI ZAMAN KERAJAAN

JAKARTA - Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan tersebut berkaitan dengan…

3 jam ago