(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Histori

IMAM BUKHARI SUKSES JADI AHLI HADITS KARENA TAAT PADA GURU

Nasihat guru sangat diutamakan dalam kehidupan generasi salaf terdahulu. Termasuk dalam hal memilihkan bidang ilmu yang harus digeluti oleh seorang murid.

Imam Al Zarnuji, dalam Ta’lim Al Muta’allim (terjemahan Abdul Kadir Aljufri, diterbitkan Mutiara Ilmu) menyampaikan seorang murid tidak patut memilih bidang ilmu sendiri. Dia harus menyerahkan urusan tersebut kepada sang guru. Sebab guru lebih mengetahui mana ilmu yang sesuai dengan watak dan kecenderungan muridnya.

Imam Al Zarnuji menukil perkataan Syekh Burhan Al Haqqi, sebagai berikut:

كَانَ طَلَبَةُ العِلمِ فِى الزَّمَانِ الأَوَّل يُفَوِّضُونَ أُمُورَهُم فِى التَّعَلُّمِ إِلَى اُستَاذِهِم، وَكَانُوا يَصِلُونَ إِلَى مَقصُودِهِم وَمُرَادِهِم، وَالآن يختَارُون بِأَنفُسِهِم، فَلاَ يَحصُلُ مَقْصُودَهُم مِنَ العِلمِ وَالفِقْهِ.

“Pada zaman dahulu, para murid menyerahkan sepenuhnya urusan belajar mereka kepada guru, agar berhasil meraih cita-citanya. Namun, berbeda dengan masa sekarang, para murid selalu menentukan pilihannya sendiri sehingga mereka pun gagal meraih ilmu yang dicita-citakan.”

Muhammad bin Ismail Al Bukhari (Imam Bukhari), dahulu berguru kepada Muhammad bin Al Hasan. Al Bukhari memulai belajar kepada gurunya itu dari bab sholat. Hingga kemudian, gurunya berkata, “Pergilah dan belajarlah ilmu hadits.”

Sang guru, Muhammad bin Al Hasan, berkata demikian karena mengetahui watak dan kecenderungan muridnya itu. Lalu, Imam Bukhari menimba ilmu hadits sehingga dia pun menjadi pelopor seluruh imam ahli hadits.
Seorang murid juga hendaknya mendengarkan ilmu dan hikmah dari gurunya dengan penuh rasa hormat, sekalipun sudah ribuan kali mendengar masalah yang dibahas itu.

“Dikatakan, ‘Siapa yang tidak menghormati atau memperhatikan satu persoalan, meski dia sudah pernah mendengar seribu kali, maka dia bukan termasuk ahli ilmu’,” demikian penjelasan Imam Al Zarnuji.

Seorang murid juga tidak boleh malas yang artinya harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Siapa pun yang bersungguh-sungguh mencari seseuatu, maka dia akan mendapatkannya. Seorang murid akan mendapatkan apa yang didambakannya berdasarkan penderitaan yang dilewatinya dalam menimba ilmu.

Kesungguhan menimba ilmu tidak hanya datang dari murid itu sendiri, tetapi ada dua orang yang lain, yaitu guru dan ayah. “Belajar dan memperdalam ilmu fiqih itu butuh kesungguhan dari tiga orang, yaitu kesungguhan murid, guru dan ayah bila masih hidup,” kata Imam Al Zarnuji.(*/Tian)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago