(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Gaya Hidup

INI GEJALA DAN PENYEBAB HIPERSEKSUALITAS SESEORANG

JAKARTA – Hiperseksualitas memiliki beberapa gejala yang dapat diketahui. Gejala tersebut meliputi punya fantasi, dorongan, serta perilaku seksual berulang maupun intens yang menghabiskan banyak waktu dan merasa seolah-olah itu di luar kendali.

Mereka yang mengalami hiperseksualitas merasa terdorong untuk melakukan perilaku seksual tertentu, merasakan pelepasan ketegangan sesudahnya, tetapi juga merasa bersalah atau menyesal. Di sisi lain, ia gagal pula untuk mengurangi atau mengendalikan fantasi, dorongan, atau perilaku seksual.

Hiperseksualitas juga digunakan sebagai pelarian dari masalah lain, seperti kesepian, depresi, kecemasan, atau stres. Selain itu, hiperseksualitas bisa membuat seseorang terus terlibat dalam perilaku seksual yang memiliki konsekuensi serius, seperti potensi untuk mendapatkan atau memberi orang lain infeksi menular seksual, kehilangan hubungan penting, masalah di tempat kerja, kesulitan keuangan, atau masalah hukum.

Adapun gejala lain yang ditunjukkan dari hipersekseksualitas adalah mengalami kesulitan membangun serta mempertahankan hubungan yang sehat dan stabil. Pada dasarnya, penyebab seseorang hiperseksualitas tidak jelas. Namun, kondisi ini dapat mencakup ketidakseimbangan bahan kimia otak alami.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, bahan kimia tertentu di otak (neurotransmiter) seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin membantu mengatur suasana hati. Pada jumlah bahan kimia yang tinggi, terkait dengan perilaku seksual kompulsif, hipeseksualitas juga dapat disebabkan oleh perubahan jalur otak.

Di mana perilaku seksual kompulsif dapat menjadi kecanduan yang seiring waktu bisa menyebabkan perubahan pada sirkuit saraf otak, terutama di pusat-pusat penguatan otak.

Seperti kecanduan lain, konten dan stimulasi seksual yang lebih intensif biasanya dibutuhkan seiring waktu untuk mendapatkan kepuasan atau kelegaan.

Penyakit atau masalah kesehatan tertentu, seperti epilepsi dan demensia, dapat menyebabkan kerusakan pada bagian otak yang memengaruhi perilaku seksual. Selain itu, pengobatan penyakit parkinson dengan beberapa obat agonis dopamin dapat menyebabkan perilaku seksual kompulsif. (Baca Juga: Bercinta Seminggu Sekali Bisa Membuat Hubungan Lebih Bahagia)

Hiperseksualitas dapat terjadi pada pria dan wanita, meskipun mungkin lebih umum pada pria. Kondisi ini bisa mempengaruhi siapa saja, terlepas dari orientasi seksualnya.

Sementara itu, peningkatan risiko perilaku seksual kompulsif dapat terjadi pada orang yang memiliki masalah alkohol atau penyalahgunaan narkoba, kondisi kesehatan mental lain seperti gangguan suasana hati (depresi atau kecemasan) atau kecanduan judi, konflik keluarga, atau anggota keluarga dengan masalah seperti kecanduan serta riwayat pelecehan fisik atau seksual.(*/Tya)

orbit

Recent Posts

PULAU SUMATRA TITIK GERBANG AWAL JEJAK ISLAM DI NUSANTARA

Sumatera memegang peranan penting sebagai pintu gerbang utama masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kendati…

6 jam ago

KAMAR MANDI HOTEL SELALU TAK ADA KAYUNG, KENAPA?

JAKARTA - Pernahkah traveler memperhatikan, di dalam kamar mandi hotel biasanya tidak ada gayung. Kenapa…

6 jam ago

SEJUMLAH RESTORAN LARANG BERMAIN PONSEL, IMBALAN MAKANAN GRATIS

JAKARTA - Aturan makan tanpa sibuk main ponsel mulai diterapkan sejumlah restoran. Ada yang mengunci…

6 jam ago

TRAGIS, 500 RENTAL MOTOR DIKUASAI WNA, HANYA 5 BERIZIN SISA BODONG

DENPASAR - Penyewaan motor menjamur di Bali, tetapi banyak yang izinnya bodong. Pemprov Bali mencatat…

7 jam ago

KATARAK BISA MENYERANG YANG MUDA, INI FAKTOR RESIKONYA

JAKARTA - Katarak identik dengan penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Namun, anggapan bahwa katarak…

7 jam ago

JEJAK SEJARAH BATIK, KAIN BATIK SUDAH ADA DARI ZAMAN KERAJAAN

JAKARTA - Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan tersebut berkaitan dengan…

7 jam ago