(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Histori

KISAH KIAI SIROJUDIN, PANGLIMA PERANG LASKAR DIPONEGORO

Sejarah perkembangan agama Islam di Salatiga, Jawa Tengah tak lepas dari perjuangan Kiai Sirojudin. Sosok kiai yang diyakini merupakan orang dari Kejaraan Mataram ini, menyebarkan agama Islam di Salatiga pada masa zaman penjajahan kolonial Belanda.

Kiai Sirojudin mensyiarkan agama Islam di Salatiga bersama Kiai Ronosentiko. Awalnya kedua kiai itu, pada tahun 1826 mendirikan Masjid Damarjati di Dukuh Krajan RT02/RW05, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo.

Masjid Damarjati dibangun di tengah kecamuk perang antara Pangeran Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda. Konon, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari strategi Kiai Sirojudin dan Kiai Ronosentiko untuk mengalahkan Belanda sekaligus mensyiarkan Islam di Salatiga.

“Berdasarkan cerita yang dikisahkan sejumlah orang tua dulu, Kiai Sirojudin adalah Panglima Perang Laskar Diponegoro. Namun beliau memilih melakukan perlawanan dengan cara gerilya,” tutur warga Krajan, Yahya.

Agat tidak dicurigai Belanda, kedua tokoh tersebut membuka perkampungan baru bersama laskarnya. Kiai Sirojudin membuka perkampungan di Dukuh Krajan. Sedangkan Kiai Ronosentiko babat alas di daerah Bancaan, sekitar tiga kilometer jauhnya dari Krajan.

Belakangan, Kiai Sirojudin mengganti namanya menjadi Damarjati. Penggantiaan nama terpaksa dilakukan karena dia berserta Kiai Ronosentiko merupakan buruan tentara Belanda.

“Menurut cerita, kedua ulama itu ditugasi untuk memata-matai Belanda di Salatiga. Dulu basis militer Belanda di Jawa Tengah berada di Salatiga,” ujarnya.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kiai Sirojudin dibantu laskarnya membangun sebuah langgar di perkampungan yang dibukanya. Saat itu bangunan langgar masih sangat sederhana dan luasnya hanya 6×6 meterpersegi.

Dindingnya terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu, sementara atapnya terbuat dari sirap. Selain untuk tempat ibadah, langgar tersebut juga dijadikan sebagai pusat segala aktivitas, termasuk menyusun strategi melawan Belanda.

Langgar ini juga digunakan untuk melakukan syiar Islam kepada masyarakat. Mulai saat itu, syiar Islam di Salatiga tersebar luas dan terus berkembang. Dan langgar itu, juga berkembang menjadi masjid.

Saat Kiai Sirojudin wafat, jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati.(*/Dan)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago