(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Asal Usul

LASEM, LOKASI PENDARATAN PERTMA ORANG TIONGHOA DI PULAU JAWA

Lasem menyimpan sejarah dan kaya akan budaya. Deretan bangunan kuno hingga kini masih berdiri kokoh di sepanjang jalan dan gang masuk ke perkampungan.

Lasem merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah itu dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” ini juga menjadi rumah keberagaman. Di antaranya yakni masyarakatnya memiliki kesadaran toleransi yang tinggi, hidup berdampingan di atas perbedaan ras, suku dan agama.
Lasem, Lokasi Pendaratan Pertama Orang Tionghoa di Pulau Jawa

Lasem dalam sejarahnya, tempat awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa. Sehingga banyak perkampungan Tionghoa dengan bangunan rumah kuno yang unik, salah satunya di Jalan Karangturi. Sebagian lagi berada di Desa Soditan.

Sebanyak tiga kelenteng berdiri megah di kecamatan ini. Ketiganya yaitu Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dan Kelenteng Karangturi Po An Bio.

Menariknya, masyarakat Tionghoa dapat hidup beriringan dengan keturunan Jawa, bahkan kalangan santri. Terbukti, di Lasem juga terdapat puluhan pondok pesantren yang tua. Beberapa di antaranya bahkan bangunannya berarsitektur China. Seperti Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah di Soditan dan Ponpes Kauman di Jalan Karangturi.

“Kalau toleransi di Lasem itu jempol,” ujar salah seorang keturunan Tionghoa, Oenardi alias Oen Liang saat ditemui di rumahnya Jalan Karangturi, Kecamatan Lasem. Sejak lahir, kata pria berusia 60 tahun ini, tidak ada konflik antar suku, agama dan ras di Lasem. Mereka hidup berdampingan dan saling menghargai.
Lasem, Lokasi Pendaratan Pertama Orang Tionghoa di Pulau Jawa

“Kalau ada orang Tionghoa meninggal, ya orang muslim ikut takziyah. Begitu sebaliknya. Di sini aman, nyaman. Di sini ada kelenteng, berdekatan dengan pesantren. Semua membaur saling menghormati,” tuturnya.

Dalam perayaan Imlek, Oenardi menambahkan, kelenteng terbuka bagi siapapun untuk saling bertemu dan menikmati makanan yang disajikan.“Wah, kalau pas Imlek banyak warga datang dari berbagai kalangan. Islam, Kristen dipersilakan mnikmati hidangan seperti kue keranjang. Asalkan sopan karena kelenteng tempat ibadah,” bebernya.

Pengasuh Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah, Gus Farih Fuadi menyampaikan bahwa sikap toleransi di Lasem sudah terjalin sejak lama. Ponpes yang diasuhnya itupun mulanya adalah bangunan tempat penginapan masyarakat Tionghoa. Bahkan pintu ruang tamu di pesantrennya pun masih terdapat tulisan China.

“Pesantren ini didirikan Abah saya sekitar tahun 1985 lalu. Dulunya ini bangunan untuk penginapan masyarakat Tionghoa. Dibeli Abah dan dijadikan pesantren. Dan pintu itu memang asli masih ada tulisan huruf China,” ungkapnya.

Selama ini, santrinya membaur dengan masyarakat keturunan Tionghoa. Banyak juga wisatawan datang ke pesantren ini untuk belajar bagaimana menjaga toleransi. “Alhamdulillah tidak pernah ada apa-apa. Semuanya saling melengkapi. Banyak yang datang ke sini menanyakan sejarah toleransi,” terang Gus Farih.

Kenyamanan dan ketenangan hidup di tengah keberagaman juga dirasakan kaum Nasrani. Di antara bangunan kuno Tionghoa di Desa Soditan berdiri dua Gereja, yakni Gereja Bethel Indonesia dan Gereja Yesus Sejati. Pendeta Gereja Bethel Indonesia, Yonatan Kukuh mengaku dapat hidup aman dan nyaman di lingkungan beragam di Lasem.

“Toleransi di sini terbangun sudah sejak lama. Masyarakat dari berbagai suku, agama ini hidup berdampingan dan saling menghormati,” kata Yonatan.

Kehidupan toleransi di Lasem, menurutnya perlu dilestarikan. “Toleransi di Lasem bukan hanya sekadar wacana. Jadi, ini perlu dilestarikan,” katanya.(*/Ndo)

orbit

Recent Posts

PULAU SUMATRA TITIK GERBANG AWAL JEJAK ISLAM DI NUSANTARA

Sumatera memegang peranan penting sebagai pintu gerbang utama masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kendati…

5 jam ago

KAMAR MANDI HOTEL SELALU TAK ADA KAYUNG, KENAPA?

JAKARTA - Pernahkah traveler memperhatikan, di dalam kamar mandi hotel biasanya tidak ada gayung. Kenapa…

6 jam ago

SEJUMLAH RESTORAN LARANG BERMAIN PONSEL, IMBALAN MAKANAN GRATIS

JAKARTA - Aturan makan tanpa sibuk main ponsel mulai diterapkan sejumlah restoran. Ada yang mengunci…

6 jam ago

TRAGIS, 500 RENTAL MOTOR DIKUASAI WNA, HANYA 5 BERIZIN SISA BODONG

DENPASAR - Penyewaan motor menjamur di Bali, tetapi banyak yang izinnya bodong. Pemprov Bali mencatat…

6 jam ago

KATARAK BISA MENYERANG YANG MUDA, INI FAKTOR RESIKONYA

JAKARTA - Katarak identik dengan penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Namun, anggapan bahwa katarak…

6 jam ago

JEJAK SEJARAH BATIK, KAIN BATIK SUDAH ADA DARI ZAMAN KERAJAAN

JAKARTA - Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan tersebut berkaitan dengan…

6 jam ago