KISAH PERPINDAHAN KIBLAT DARI BAITUL MAGDIS KE KA’BAH

Perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah adalah salah satu sejarah besar bagi umat Islam. Peristiwa ini adalah ujian ketaatan yang sangat berat bagi para sahabat nabi saat itu. Allah SWT memindahkan arah kiblat untuk memisahkan siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW dan siapa yang berpaling darinya.
Kisah perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah diabadikan dalam Al-Qur’an. Peristiwa ini terjadi pada bulan Syaban tahun kedua sejak Rasulullah SAW tiba di Madinah, menurut Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk karya Ibnu Thabari yang diterjemahkan Erfina Maulidah Khabib.

Kisah Perpindahan Kiblat dari Baitul Maqdis Ke Ka’bah
Dalam kitab Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang diterjemahkan oleh Nabhani Idris, pada mulanya Rasulullah SAW salat menghadap ke arah Baitul Maqdis, padahal beliau lebih senang jika kiblat dipindahkan ke arah Ka’bah.
Rasulullah SAW berkata kepada Malaikat Jibril, “Aku senang jika Allah SWT memalingkan wajahku dari kiblat Yahudi.” Jibril menjawab, “Aku hanya hamba biasa, berdoalah dan mintalah kepada Rabbmu.”
Maka Rasulullah SAW memalingkan mukanya ke langit mengharapkan hal tersebut dan Allah SWT menurunkan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
Peristiwa perpindahan arah kiblat terjadi 16 bulan setelah kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah dan dua bulan sebelum peristiwa Badar, menurut riwayat Ahmad dan Bukhari.
Muhammad bin Sa’ad mengatakan, “Hasyim bin Al-Qasim telah menginformasikan kepada kami, ujarnya, Abu Ma’syar telah memberitakan kepada kami, dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, ia berkata ‘Tak seorang nabi pun yang berbeda dengan nabi lain dalam arah kiblat dan dalam sunnah, kecuali Rasulullah SAW. Beliau menghadap Baitul Maqdis selama enam belas bulan sejak hijrah ke Madinah’.”
Lalu Ka’ab membaca Al-Quran surah Asy-Syura ayat 13,
شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ
Artinya: “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
Hikmah dan Ujian Perpindahan Ka’bah
Perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah mengandung hikmah besar sekaligus ujian bagi kaum muslim, orang-orang musyrik, orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik.
Bagi kaum muslim, mereka menuntut sikap mendengar dan patuh, seraya mengatakan, “Kami beriman dengannya, semuanya dari sisi Rabb kami.” (Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 7). Hal ini tidak memberatkan dan tidak masalah bagi mereka. Merekalah orang-orang yang Allah SWT karunia petunjuk.
Sementara orang-orang musyrik akan mengatakan, “Ia pindah ke kiblat kita, berarti ia akan pindah ke agama kita. Maka yang benar adalah agama kita.”
Lain halnya dengan orang Yahudi, mereka akan berkomentar bahwa Rasulullah SAW menyalahi kiblat para nabi. Berarti ia bukan nabi, sebab kalau nabi, tentu ia akan sholat menghadap kiblat mereka (tidak ke arah Ka’bah).
Kemudian kaum munafik mengatakan, “Kami tidak tahu kemana Muhammad mengarah. Karena kalau kiblat pertama yang benar, tentu ia tidak pindah ke arah lain. Jika yang kedua benar, berlari saat menghadap kiblat pertama, ia berada dalam kebatilan.”
Pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah ini sangat memberatkan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143,
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitul Maqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”(*/Da)
