(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Kesehatan

LANGKAH HINDARI KETAKUTAN BERLEBIH AKIBAT CORONA

JAKARTA – Kondisi tidak menentu pada masa pandemi COVID-19 menyebabkan rasa takut, cemas, dan khawatir pada masyarakat. Hal ini juga menimbulkan stigma pada pasien maupun tenaga kesehatan.

Menurut dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, stigmasisasi pada orang yang terinfeksi virus atau covid-19 atau tenaga medis kerap terjadi karena ketidaktahuan atau sumber informasi yang tidak tepat.

“Muncul anggapan negatif itu karena ketidaktahuan. Soal Covid-19, perlu mengetahui cara mengatasi stigma dengan tepat seperti mencari informasi yang akurat dan mengetahui segala sesuatu dengan benar, termasuk bagaimana penyebaran atau penanganannya,” kata Vivi saat diskusi Stigma Sosial via Zoom Conference.

Dokter yang berpraktik di RSUD Tarakan Jakarta ini juga menjelaskan, seseorang bisa mencari informasi yang benar dari laman berita yang jelas terkonfirmasi seperti WHO, CDC, Kemenkes atau Dinas Kesehatan terkait. Dengan informasi yang didapat, seseorang bisa menjadi proteksi dan tidak khawatir berlebihan.

“Saat pasien sudah paham mengenai penanganan Covid-19, maka katakanlah ada pasien corona rujuk lepas. Ia dari IGD dan mendatangani rumah sakit secara acak agar bisa diperiksa dan dirawat. Padahal hal seperti ini tidak perlu terjadi karena pasien juga perlu paham, kondisi mana yang perlu dirawat dan bisa isolasi mandiri,” katanya.

Tidak Perlu Takut
Sementara Dr. dr. Hervita Diatri, Sp.KJ menyampaikan, masyarakat tidak perlu takut berlebihan akan Covid-19 ini. Sebab ada penyakit lain yang tingkat kematiannya lebih tinggi.

“Kita paham betul, terlalu banyak informasi terkait cara penularan. Dan sangat sulit mengubah pandangan masyarakat. Namun terlalu cemas juga akan membuat seseorang kurang istirahat, nggak pengin makan karena cemas. Selalu pakai masker, ketakutan bahkan untuk minum susah. Ini bisa menjadi ancaman eksternal,” ujar dokter yang berpraktik di RSCM tersebut.

Hervita mengatakan, salah satu hal yang penting agar tidak cemas berlebihan ini adalah dari dalam diri kita sendiri.

“Faktor internal, tanggung jawab sendiri saja dulu. Misalnya, jangan melayat dulu karena kita punya budaya memeluk orang yang berduka.
Yang dikhawatirkan itu adalah penularan melalui tangan, air mata, sangat mudah droplet berpindah,” ungkapnya.(*/Ni)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago