MAKNA KHALIFAH DAN SUNATULLAH DALAM PERADABAN MANUSIA

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Kosakata khalifah galibnya selalu berkaitan dengan politik dan kekuasaan. Khalifah adalah pemimpin, penguasa, atau orang yang memegang tampuk pemerintahan. Makna khalifah jarang dielaborasi dalam teks asalnya yang berkenaan dengan daur kehidupan dan alur berulang, misalnya, dalam sebuah organisasi.

Mari kita cermati kosakata khalifah tersebut dalam siklus organisasional yang dapat dirujuk pada Qs. AlBaqarah [2]: 30. Ayat yang familiar berkenaan dengan penciptaan Adam sebagai manusia pertama dan khalifah di bumi ini mempunyai kandungan makna yang inspiratif ketika ditarik ke dalam dinamika.

Ibnu Katsir memberikan pemaknaan yang menarik tentang khalifah dalam ayat tersebut, yakni ”qauman yakhlufu ba`dhuhum ba`dhan qarnan ba`da qarnin wa jailan ba`da jailin” (kaum yang sebagian dari mereka menggantikan sebagian yang lain dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi). Dengan demikian, makna khalifah dalam ayat tersebut bersifat biologis-reproduktif dan merupakan sunnatullah dalam sejarah dan peradaban umat manusia yang bersifat regeneratif.

Bila ditarik ke dalam skala mikro sebuah organisasi, kosakata khalifah dengan makna tersebut memberikan relasi organisasional yang relevan dengan fungsi kaderisasi, regenerasi, dan suksesi kepemimpinan secara sistematis dan kontinum. Paling tidak, dalam organisasi terdapat anasir anggota, kader, dan pemimpin yang secara struktural dan fungsional memiliki kewajiban dan hak.

Dalam lingkup dan dinamika organisasi, tiga subjek tersebut saling membutuhkan dan mempengaruhi. Seorang pemimpin pasti membutuhkan anggota/warga, baik sebagai basis legitimasi kepemimpinan maupun untuk kepentingan pelibatan mereka dalam berbagai program yang sudah dirancang. Terlebih lagi posisi kader, keberadaannya lebih strategis dan menentukan bagi kemajuan organisasi.

Kader merupakan tenaga pendukung tugas pemimpin sekaligus penggerak dan pendinamis aktivitas organisasi. Kader berkualitas dan proses kaderisasi yang mapan menjadi qonditio sine qua non (keharusan) bagi terlaksananya regenerasi dan alih estafeta kepemimpinan. Regenerasi yang bertumpu pada kaderisasi dapat menjamin dinamisasi, kesinambungan, dan pengembangan organisasi di masa depan.

Identitas dan keberadaan pemimpin dan kader adalah komponen organisasi yang, tidak boleh tidak, mesti dirawat dan dikembangkan. Ini adalah tanggung jawab besar dan berat bagi pemimpin. Dengan kata lain, aktiva dan pasiva gerak organisasi akan ikut ditentukan oleh kualitas kader dan kinerja kepemimpinan. Artinya, neraca gerakan sebuah organisasi dan kelanjutannya ke depan bakal ikut diwarnai dan ditentukan oleh kompetensi kader dan para elite yang diamanahi dalam struktur kepemimpinan.

Dengan demikian, para kader dan pemimpin di Muhammadiyah memiliki amanah dan tanggung jawab besar lagi berat untuk memajukan Persyarikatan dan mengembangkan sumber daya kader dan anggotanya.

Maka, selain memiliki integritas dan kredibilitas, kader dan pemimpin juga harus mempunyai kapabilitas, visi kepemimpinan yang jelas, dan kemauan untuk selalu berada dalam siklus organisasional yang sehat sebagai perwujudan makna khalifah tadi.

Sosok kader dan pemimpin yang amanah, cakap, dan model khalifah dalam siklus organisasional tersebut akan dapat memperkuat substansi kepemimpinan sebuah organisasi dan menghindari pembusukan dari dalam.(*/Tian)

Loading...