Berita Orbit

PECI DAN SERBAN DIPAKAI KORUPTOR DAN KRIMINAL DI PERSIDANGAN, PAKAR: JADI SIMBOL MENIPU PUBLIK

visit indonesia

JAKARTA – Penggunaan simbol-simbol agama seperti peci dan serban dalam pemberitaan kasus korupsi menuai perhatian publik. Sejumlah media dinilai masih menampilkan foto para tersangka atau terdakwa korupsi dengan atribut religius, bahkan ada yang dikaitkan dengan simbol solidaritas Palestina.

&80 x 90 Image

Pakar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Asep S Muhtadi menilai peci dan serban selama ini memang telah menjadi simbol kesalehan seorang Muslim. Dalam konteks pemberitaan korupsi, simbol tersebut berpotensi disalahgunakan untuk membangun citra tertentu di mata publik.

“Peci dan serban kerap menjadi simbol kesalehan seorang Muslim. Kini banyak dijadikan simbol untuk memanipulasi publik agar terkesan saleh alias tidak koruptif,” ujar Prof Asep saat dihubungi media, Rabu (21/1/2026).

Meski demikian, Prof Asep optimistis, masyarakat saat ini semakin cerdas dalam menyikapi informasi. Menurut dia, publik tidak lagi mudah terpengaruh oleh pencitraan visual semata, apalagi jika tidak sejalan dengan fakta hukum yang diungkap di persidangan. “Tapi masyarakat, saya kira, sudah cerdas sendiri. Iya tidak bisa dimanipulasi dengan simbol-simbol seperti itu,”ujar dia.

Isu penggunaan simbol agama dalam framing koruptor mencuat setelah MUI menyampaikan keprihatinan terhadap penayangan foto koruptor yang mengenakan serban atau atribut keagamaan tertentu. MUI menilai hal itu dapat menimbulkan kesan seolah-olah simbol agama dilekatkan pada perilaku korupsi, atau sebaliknya, dimanfaatkan sebagai tameng moral bagi pelaku.

Dalam konteks ini, Prof Asep pun menekankan bahwa media massa memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Selain menyampaikan fakta, media juga mengemban fungsi edukasi bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong agar media tetap berpegang pada prinsip objektivitas dan kehati-hatian dalam memilih visual maupun narasi pemberitaan.“Kalau bisa, ya obyektif saja, sebab media itu mengemban fungsi edukasi bagi masyarakat,”kata dia.

Fenomena ini sebelumnya mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta media bersikap lebih bijak agar tidak menimbulkan framing yang keliru di tengah masyarakat

Wakil Ketua Komisi Infokom MUI, Ismail Fahmi dan Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis menyoroti cara media menampilkan foto tersangka korupsi yang mengenakan simbol agama tertentu.

Keduanya mengingatkan pentingnya kebijaksanaan media agar tidak membangun framing yang berpotensi menimbulkan stigma keagamaan.“Hasilnya: kebanyakan media sudah benar, menampilkan koruptor tanpa peci, tanpa serban,” tulis Ismail Fahmi dikutip pada Rabu (21/1/2026).

Meski demikian, Ismail mencatat pengecualian pada salah satu media arus utama. Menurut Ismail Fahmi, salah satu media nasional masih menggunakan foto lama saat yang bersangkutan mengenakan peci dan sorban Palestina.

Menanggapi cuitan Ismail, Kiai Cholil pun meminta agar media bijak dalam menampilkan foto koruptor. “Ya saya minta media-media agar bijak menampilkan foto-foto koruptor. Sebab saya sebagai pembaca sangat terusik dengan penampilan dengan simbol agama,” tulis Kiai Cholil.(*/Ra)

Loading...