PERLU DIWASPADAI, EMPAT CARA IBLIS MENIPU PEMILIK HARTA

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

JAKARTA – Iblis senantiasa melancarkan tipu dayanya terhadap manusia, termasuk kepada para pemilik harta. Dikutip dari buku Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi dengan pentahqiq Syaikh Ali Hasan al-Halabi, iblis menipu pada pemilik harta melalui empat aspek.

Pertama, cara mendapat harta. Sehingga mereka tidak peduli dengan cara apa harta itu didapatkan. Maka praktik ribawi dominan dalam sebagian besar muamalah mereka, hingga mereka begitu akrab dengan riba. Bahkan mayoritas muamalah mereka menyimpang dari ijma.

Kedua, kikir harta. Di antara mereka ada yang tidak mau mengeluarkan zakat sama sekali karena mengandalkan ampunan. Ada yang mengeluarkan sebagian zakat, namun setelah itu kalah oleh sifat kikir hingga menyangka bahwa zakat yang dikeluarkan pasti membela mereka.

Ada yang mencari akal guna menggugurkan kewajiban zakat, seperti dengan menghibahkan harta untuk orang lain sebelum haul lalu diminta kembali setelahnya. Atau memberi sehelai baju kepada seorang fakir yang dihargai 10 dinar, padahal harga aslinya dua dinar, dan ia pun mengira sudah bebas dari tanggungan.

Atau, mengeluarkan barang berkualitas buruk sebagai pengganti dari barang yang berkualitas baik. Atau, dengan memberikan zakat kepada pekerja yang jasanya dia pergunakan selama setahun penuh, padahal zakat yang dia berikan itu tidak lain merupakan upah si pekerja.

Ada juga yang mengeluarkan zakat sebagaimana mestinya, namun Iblis membisikkan: “Kamu tidak mempunyai tanggungan lagi,” sehingga yang bersangkutan tidak bersedekah karena cinta harta. Akibatnya, dia kehilangan pahala sedekah, dan harta miliknya menjadi milik orang lain.

Ketiga, menumpuk harta. Hingga orang yang banyak harta mengira dirinya itu lebih baik daripada orang miskin. Keutamaan itu diukur berdasarkan keutamaan jiwa pribadi, bukan berdasarkan kebendaan yang dikumpulkan olehnya.

Keempat, membelanjakan harta. Di antara mereka ada yang membelanjakan harta secara boros, berlebih-lebihan. Terkadang ada yang menggunakannya untuk mendirikan bangunan yang melebihi kebutuhan, memperindah pagar, menghias rumah, serta membuat gambar-gambar.

Kadang ada yang menggunakannya untuk membeli pakaian yang menjadikan pemakainya bersikap sombong atau angkuh. Adakalanya ada yang menggunakan harta yang dia miliki untuk membeli makan yang amat banyak sampai dianggap berlebih-lebihan.

Tindakan-tindakan seperti di atas tidak terlepas dari keharaman ataupun kemakruhan. Dan, sang pelaku akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia menuturkan; Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

يا ابن آدم، لا تزول قدماك يوم القيامة بين يدي الله عز وجل حتى تسأل عن أربع: عمرك، فيما أفنيته؟ وجسدك، فيما أبليته؟ ومالك، من أين اكتسبته وأين أنفقته؟ وعلمك، ماذ عملت فيه؟

“Wahai anak Adam! Tidaklah kedua telapak kakimu akan bergeser dari hadapan Allah Azza wa Jalla pada hari Kiamat kelak, melainkan sebelum kamu ditanya tentang empat perkara: (1) umurmu, untuk apa kamu habiskan; (2) jasadmu, untuk apa kamu lapukkan; (3) hartamu, dari mana kamu dapatkan dan ke mana kamu belanjakan; serta (4) ilmumu, apa yang kamu amalkan dengannya.”

Di antara orang awam ada yang menggunakan hartanya untuk membangun masjid dan jembatan, akan tetapi tujuan utamanya ialah riya (pamer), sum’ah (mencari reputasi diri), dan agar dia dikenang sebagai orang baik. Dia menuliskan namanya pada bangunan apa pun yang didirikannya.

Padahal, andaikan orang itu bekerja untuk Allah Azza wa Jalla, maka cukup Allah saja yang mengetahui. Namun saat dia diperintahkan membangun tembok tanpa mencantumkan namanya di bangunan tersebut, dia tidak mau melakukan pekerjaan ini.(*/Da)

Loading...