(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Sport

RAJIN OLAHRAGA TEKAN RISIKO FATAL SAAT SERANGAN JANTUNG PERTAMA

JAKARTA – Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sekaligus Ahli Ilmu Faal Olahraga Siloam Hospitals Lippo Village Vito Damay mengatakan, rajin berolahraga di usia muda justru dapat menekan risiko fatal saat individu mengalami serangan jantung yang pertama. Ia menyampaikan penegasan tersebut guna mengoreksi kesalahpahaman masyarakat yang menyimpulkan kasus-kasus atlet meninggal saat berolahraga adalah akibat dari serangan jantung.

“Orang-orang yang tidak olahraga sama sekali biasanya serangan pertama langsung lebih fatal akibatnya dibandingkan dengan mereka yang rajin olahraga,” kata Vito dalam gelar wicara daring Kementerian Kesehatan bertajuk “FOMO Olahraga, Boleh. Asal Perhatikan Kondisi Jantungmu!” di Jakarta pada Jumat (7/6/2024).

Individu yang rajin berolahraga pada masa muda, lanjutnya, memiliki jantung dengan banyak serabut pembuluh darah yang nantinya tetap dapat berfungsi mengalirkan darah ketika pembuluh darah besar mengalami penyumbatan akibat penebalan dinding.

Aktivitas olahraga pada masa muda telah membiasakan jantung untuk memompa darah lebih cepat. Ini membuat jantung lebih sigap ketika mengalami tekanan darah tinggi akibat pola gaya hidup atau kondisi lanjut usia, yang membuat organ dalam tubuh tidak lagi elastis dan mulai kaku.

“Jadi jantung bisa menghemat tenaga. Itulah maksudnya manfaat olahraga. Jadi olahraga membuat jantung lebih tahan seandainya pun terjadi serangan, karena punya banyak serabut pembuluh darah kecil yang bisa membantu mengalirkan oksigen di daerah yang terjadi penyumbatan,” kata dia.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat yang belum memasuki lanjut usia agar rajin menjaga gaya hidup, berolahraga setiap hari, mulai dari jalan kaki, lari, dan kegiatan aktif lainnya sekaligus rutin memeriksakan kesehatan jantung.

“Penyakit jantung koroner yang kita tahu serangan jantung justru penyakit yang bisa dicegah. Itu makanya sangat ironis, kok bisa penyakit yang bisa dicegah dan dideteksi sebelumnya, malah sering sekali menyebabkan seorang kolaps. Kuncinya olahraga, pencegahan, sama pemeriksaan medisnya,” jelasnya.(*/Da)

orbit

Recent Posts

SEMARAK HJB KE-544 DAN MINANGKALA TOHAGA KE-19, BADMINTON CUP 2026 RESMI DITUTUP: SATUKAN PEGAWAI DAN PEDAGANG DALAM SEMANGAT SPORTIVITAS

CIBINONG – Turnamen Badminton Tohaga Cup 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi…

2 bulan ago

MERIAHKAN KABOGOR FEST, TIRTA KAHURIPAN DEKATKAN PELAYANAN DAN PERLUAS AKSES AIR BERSIH

CIBINONG - KaBogor Fest 2026 merupakan salah satu festival terbesar di Kabupaten Bogor yang menggabungkan…

2 bulan ago

SAMBUT HJB KE-544, TIRTA KAHURIPAN HADIRKAN PROMO SPESIAL SAMBUNGAN BARU

CIBINONG - Sebagai wujud memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun, Perumda Air Minum Tirta…

3 bulan ago

STRATEGI TIRTA KAHURIPAN MENINGKATKAN SUPLAI AIR DI TARIKOLOT

CIBINONG – Menindaklanjuti aduan pelanggan di wilayah Tarikolot yang disampaikan melalui lini pengaduan dan media…

4 bulan ago

MUDIK DEMI ORANG TUA

JAKARTA - Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun…

5 bulan ago

GEJALA GERS KABUH SAAT PERJALANAN MUDIK, TIPS PENANGANANNYA

JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, Hasan Maulahela, mengatakan…

5 bulan ago