RIDHA DENGAN BALA UNTUK MENGGAPAI CINTA SANG MAHA KUASA

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Banyak riwayat hadis tentang fadhail amal yang menjelaskan tentang amalan yang paling dicintai Allah. Namun para ulama hadis berkata bahwa jawaban Rasulullah dalam hadis-hadis tersebut disesuaikan dengan sang penanya.

Asma` binti Rasyid ar-Ruwaisyid dalam “Ibadah Yang Paling Dicintai Allah” menyebut ada belasan ibadah yang sangat dicintai Allah. Dari yang belasan itu, di antaranya adalah Allah subhanahu wa ta’ala menyukai orang yang ridha dengan bala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله إذا أحب قومًا ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط))

“Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya bala, dan apabila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai suatu kaum Dia memberi cobaan kepada mereka. Maka siapa yang ridha maka baginya ridha dan siapa yang marah maka baginya kemarahan.” HR. At-Tirmidzi.

Orang yang ridha dengan bala adalah hamba yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Dia mencobanya dengan berbagai cobaan dan musibah, lalu ia sabar, istirja (mengembalikannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala) dan mengharapkan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, serta ridha dengan cobaan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya, maka untuknya keridhaan dan pahala besar terhadap kadar musibahnya.

Cobaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman di dunia bukan karena murka-Nya akan tetapi bisa jadi untuk menolak yang dibenci atau menebus dosa-dosanya, atau untuk meninggikan derajatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ما من مسلم يصيبه أذى إلا حاتَّ الله عنه خطاياه كما تحاتُّ ورق الشجر )) [أخرجه البخاري].

“Tidak ada seorang muslim yang ditimpa rasa sakit kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana berguguran daun pohon.” (HR Al-Bukhari)

Ini merupakan berita gembira besar bagi setiap mukmin, karena anak manusia biasanya tidak pernah terlepas dari rasa sakit disebabkan sakit atau duka cita atau semisal yang demikian itu.

Sabar terhadap bala adalah saat kejadian pertama, sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إنما الصبر عند الصدمة الأولى))

‘Sesungguhnya sabar (yang sebenarnya) adalah saat kejadian pertama.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sabar yang berat terhadap jiwa dan yang besar pahalanya adalah saat pertama kali terjadi bala dan terkejut mendapat musibah, maka ia berserah diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

Hal itu menunjukkan kekuatan dan keteguhan hati dalam kedudukan sabar. Adapun bila panasnya musibah sudah dingin, maka setiap orang bisa sabar ketika itu.

Manusia di negeri (dunia) ini selalu menghadapi bala, fitnah, cobaan dan ujian. Wabah virus corona atau Covid-19 hanyalah salah satu saja.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال تعالى : ﴿ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ﴾ [ الأنبياء: 35]

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebenar-benarnya). (QS. Al-Anbiyaa`:35)

Hal itu adalah dengan berbagai musibah dan nikmat, susah dan senang, sehat dan sakit, kaya dan fakir, halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan sesat.

Tidak mudah mendapatkan martabat iman dengan kata-kata yang diucapkan dengan lisan, akan tetapi harus dicoba orang yang mengaku beriman, dan kebenaran hal itu adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴾ [ العنكبوت: 2-3]

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. al-Ankabuut:2-3)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ ﴾ [ محمد: 31]

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; (QS. Muhammad:31)

Dan sebab adanya cobaan adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ﴾ [ الملك: 2]

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Mulk:2)

Bala merupakan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, apakah ia ridha atau tidak, apakah ia sabar atau keluh kesah, apakah ia bersyukur atau kufur?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memohon pahala dan gantian kepada-Nya dengan yang lebih baik dari musibah yang telah terjadi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما من مسلم تصيبه مصيبة فيقول ما أمره الله:  إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهم آجرني في مصيبتي واخلف لي خيرًا منها إلا أخلف الله له خيرًا منها))

“Tidak ada seorang muslim yang tertimpa musibah, lalu ia membaca yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهم آجرني في مصيبتي واخلف لي خيرًا منها

‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantikanlah untukku yang lebih bagi darinya.’ Melainkan Allah subhanahu wa ta’ala menggantikan untuknya yang lebih baik darinya.”

Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bila kita melihat orang yang mendapat musibah agar kita memuji Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat afiyat, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( من رأى مبتلى فقال: الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به وفضلني على كثير ممن خلق تفضيلاً لم يصبه ذلك البلاء ))

“Siapa yang melihat orang yang tertimpa musibah lalu ia membaca: ‘Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang menyelamatkan aku dari bala yang ditimpakan kepadamu dengannya, dan memberikan karunia kepadaku terhadap kebanyakan yang Dia ciptakan,’ niscaya bala itu tidak akan menimpanya.” HR. at-Tirmidzi. Wallahu’alam.(*/Fir)

Loading...