SAAT UMAR BIN KHATTAB UMUMKAN KEISLAMAN

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Nabi Muhammad SAW dalam fase Makkah mengalami tantangan yang amat berat. Kala itu, jumlah pengikut beliau tidak sebanding dengan banyaknya kaum musyrikin setempat.

Terlebih lagi, umumnya orang kafir menempati posisi-posisi penting di tengah masyarakat. Sementara, kaum Muslimin lebih banyak didominasi kalangan rakyat biasa.

Rasulullah SAW tidak sekalipun menghentikan dakwah. Syiar Islam terus disampaikannya. Tak sedikit pun langkahnya surut walaupun berbagai bujukan dan ancaman menyasar dirinya.

Dalam situasi sempit itu, Nabi SAW pernah memanjatkan doa, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari (kedua ini), Amr bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab.” Allah SWT kemudian mengabulkan munajat tersebut. Lelaki yang dikehendaki-Nya untuk menerima hidayah adalah yang tersebut akhir.

Ada beragam riwayat tentang masuk Islamnya Umar. Yang paling populer adalah kisah tentang pria dari Bani Adi itu hendak membunuh Rasulullah SAW dengan sebilah pedang. Dalam perjalanan, ia dicegat seorang kawannya yang ternyata telah berislam.

Lantas, temannya itu berkata bahwa beberapa orang terdekat justru sudah menyatakan iman kepada Nabi SAW. Termasuk di antara mereka adalah saudara perempuan Umar, Fatimah. Maka lelaki berbadan tinggi-besar itu tidak jadi menuju ke rumah Rasul SAW, melainkan kediaman saudarinya itu.

Umar mengamuk hingga menampar wajah Fatimah. Menyesali perbuatannya, ia lalu meminta mushaf Alquran yang sedang dipegang saudarinya itu.

Singkat cerita, Umar mengamuk hingga menampar wajah Fatimah. Menyesali perbuatannya, ia lalu meminta mushaf Alquran yang sedang dipegang saudarinya itu. Lembaran itu ternyata memuat surah Thaha. Setelah membacanya, Umar dirundung keharuan yang begitu hebat. Hatinya tersentuh sehingga seketika menyatakan komitmen berislam.

Itu kisah pertama. Namun, ada pihak yang meragukan kesahihan riwayat tersebut. Sejarawan Mesir Muhammad Husain Haekal, misalnya, lebih yakin terhadap cerita lain, yakni bahwa Umar masuk Islam karena secara tidak sengaja mendengarkan Rasulullah SAW. Saat itu, beliau sedang membaca sebuah ayat Alquran di dekat Ka’bah.

Apa pun versinya, yang pasti adalah keislaman Umar menjadi salah satu peristiwa yang paling menentukan dalam sejarah. “Islamnya Umar bin Khattab adalah suatu pembebasan. Sebelum Umar memeluk Islam, kami tak dapat shalat di Ka’bah. Setelah dia menjadi Muslim, diperanginya mereka (orang-orang musyrik) sampai mereka membiarkan kami. Maka kami pun dapat melaksanakan shalat,” kata salah seorang sahabat, Abdullah bin Ma’sud.

Islamnya Umar bin Khattab adalah suatu pembebasan.

Sejak hari pertama menjadi Muslim, Umar memang tidak gentar. Langsung saja ia mengabarkan keimanannya pada seluruh warga Makkah. Caranya dengan menyuruh seorang yang paling “ringan” lisannya di seantero kota tersebut.

Waktu itu, Jamil bin Ma’mar bagaikan media sosial pada masa kini. Apa saja yang didengar orang ini, pasti segera disiarkannya kepada sebanyak-banyaknya orang.

Maka Umar sengaja memberi tahu keislamannya kepada Jamil. Seketika, si juru berita ini lari, lantas naik ke bukit Makkah, sembari berteriak, “Wahai Quraisy! Umar telah menjadi murtad!”

Mendengar seruan itu, Umar naik pitam. Baginya, kata-kata Jamil telah memelintir fakta. Yang benar bukan bahwa dirinya murtad —berbalik dari kebenaran. Justru dia sudah berpaling dari sikap jahiliyah, yakni menyembah berhala, dan kembali pada Islam sebagai jalan tauhid.

“Bohong! Tetapi yang benar adalah saya sudah masuk Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya,” sanggah Umar.

Tak lama kemudian, area Ka’bah menjadi ramai. Orang-orang kafir berkumpul untuk mengecek kebenaran kabar islamnya salah seorang tokoh Quraisy. Umar sendiri yang menghadapi hujan pertanyaan dari mereka.

“Ya mulai saat ini saya adalah pengikut Rasulullah Muhammad!” katanya tegas.

Orang-orang terkesima. Awalnya, mereka hanya berani berdiri. Namun, ketika jumlahnya kian banyak, kaum musyrikin ini mulai mencaci-maki Umar. Bahkan, akhirnya sahabat yang berjulukan al-Faruq itu dikeroyok.

Seorang diri, Umar menghadapi mereka. Tiap pukulan dan tendangan dibalasnya dengan tinju yang lebih keras lagi. Begitu seterusnya hingga sore tiba. Lucunya, para pengeroyok itu kelelahan, sedangkan Umar masih dengan tenaga dan semangat yang membara.

Seorang diri, Umar menghadapi mereka. Tiap pukulan dan tendangan dibalasnya dengan tinju yang lebih keras lagi. Begitu seterusnya hingga sore tiba.

Akhirnya, muncul seorang tua dari kejauhan. Dialah al-As bin Wail. Tokoh senior dari Bani Sahm itu berusaha melerai mereka. Katanya, “Islamnya Umar adalah urusannya sendiri. Siapapun tidak berhak mencampuri hal itu!”

Ucapan tersebut sebenarnya bukan pembelaan kepada Umar lantaran dirinya telah berislam. Al-As semata-mata ingat bahwa klannya sudah sejak lama menjadi sekutu Bani Adi. Karena itu, atas dasar fanatisme kesukuan ia melindungi Umar.

Peristiwa pada sore itu menjadi kabar hangat keesokan harinya. Kaum Muslimin amat kagum pada al-Faruq. Baru beberapa jam menjadi Muslim, semangatnya untuk menegakkan kebenaran di tengah kaum fasik sudah muncul dan diaplikasikan langsung.(*/Fa)

Loading...