SELINGKUH DALAM PERNIKAHAN, BISAKAH DIPERTAHANKAN
JAKARTA – Perselingkuhan menjadi salah satu pengalaman yang dapat mengguncang hubungan romantis. Ketika seseorang mengetahui pasangannya menjalin hubungan dengan orang lain, rasa dikhianati, marah, cemas, hingga kehilangan kepercayaan dapat muncul.
Lantas, jika perselingkuhan sudah terjadi, apakah hubungan masih mungkin dipulihkan?
Sebuah studi yang meneliti lebih dari 22 ribu orang di Amerika Serikat pada 1991-2018 menemukan bahwa 16,48 persen responden mengaku pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suami atau istrinya ketika masih menikah.
Penelitian tersebut juga menemukan laki-laki secara konsisten melaporkan tingkat perselingkuhan lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sementara itu, orang yang telah bercerai tercatat dua hingga tiga kali lebih mungkin melaporkan perselingkuhan dalam hubungan mereka dibandingkan mereka yang masih menikah.
Namun, angka tersebut kemungkinan belum menggambarkan seluruh kejadian perselingkuhan. Sebab, tidak semua orang bersedia mengakui perilaku tersebut secara terbuka.
Dampak perselingkuhan
Perselingkuhan tidak hanya berdampak pada keberlangsungan hubungan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis pasangan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengetahui pasangannya berselingkuh dapat mengalami berbagai respons emosional, mulai dari merasa dikhianati, marah, cemas, depresi, hingga malu.
Di sisi lain, orang yang berselingkuh juga dapat mengalami rasa bersalah, penyesalan, atau depresi. Mereka juga bisa kesulitan mengungkapkan persoalan yang sebelumnya dirasakan dalam pernikahan karena perselingkuhan sudah menjadi peristiwa besar.
6 Alasan di Balik
Penemuan perselingkuhan pun kerap menjadi titik balik dalam sebuah hubungan. Bagi pasangan, situasi tersebut dapat terasa sangat menyakitkan dan bahkan traumatis.
Meski demikian, peristiwa tersebut juga dapat menjadi momen bagi pasangan untuk mengevaluasi kembali bagaimana mereka menjalani hubungan selama ini. Pada titik tersebut, pasangan pada dasarnya dihadapkan pada pilihan: berusaha membangun kembali hubungan dengan pola yang baru atau mengakhiri hubungan.
Bisakah hubungan pulih setelah perselingkuhan?
Melansir Psychology Today, pemulihan setelah perselingkuhan bukan sesuatu yang sederhana. Tidak ada jaminan setiap pasangan dapat kembali seperti semula. Namun, ada sejumlah faktor yang dapat membantu pasangan yang memilih untuk mempertahankan hubungan.
1. Sama-sama mau memperbaiki hubungan
Kemauan dari kedua pihak menjadi salah satu faktor penting. Pasangan perlu bersedia menghadapi rasa sakit masing-masing, mendengarkan, memahami, serta memberikan dukungan selama proses pemulihan.
Jika hanya salah satu pihak yang berusaha sementara pihak lainnya tidak menunjukkan kemauan untuk memperbaiki hubungan, proses membangun kembali relasi akan jauh lebih sulit.
Pemulihan juga membutuhkan waktu. Karena itu, pasangan perlu memiliki komitmen untuk menjalani proses tersebut dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar berharap masalah segera dilupakan.
2. Mengakui kesalahan dan menunjukkan penyesalan
Orang yang berselingkuh perlu mengambil tanggung jawab penuh atas keputusannya. Artinya, perselingkuhan tidak dibenarkan dengan menyalahkan pasangan atau kondisi hubungan. Permintaan maaf yang tulus dan pengakuan bahwa batasan dalam pernikahan telah dilanggar menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan.
Salah satu langkah yang juga dapat diperlukan adalah mengakhiri hubungan atau komunikasi dengan pihak ketiga. Hal ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun kembali rasa aman dan kepercayaan
3. Mengubah persoalan yang sebelumnya tidak terselesaikan
Mengakui kesalahan bukan berarti seluruh persoalan hubungan otomatis selesai.m Orang yang berselingkuh tetap bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, jika pasangan memutuskan untuk melanjutkan hubungan, keduanya juga perlu melihat persoalan yang sebelumnya mungkin tidak terselesaikan.
Misalnya, pasangan kesulitan berkomunikasi mengenai kebutuhan dan keinginan masing-masing, menghindari pembicaraan mengenai kehidupan seksual, merasa bosan, atau merasa tertekan dalam hubungan.
Berbagai persoalan tersebut perlu dibicarakan dan dicari jalan keluarnya. Tujuannya bukan untuk membenarkan perselingkuhan, melainkan memahami masalah dalam hubungan dan mengubah pola yang selama ini tidak berjalan dengan baik.
4. Memberi ruang untuk memaafkan
Memaafkan bukan berarti menganggap perselingkuhan tidak pernah terjadi atau menghapus rasa sakit begitu saja. Orang yang dikhianati bisa mengalami kemarahan yang sangat kuat. Dalam kondisi tertentu, kemarahan tersebut bahkan dapat membuat seseorang terus menghukum atau menyimpan kebencian terhadap pasangannya.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa pengampunan dapat menjadi salah satu komponen penting dalam proses pemulihan hubungan.Memaafkan juga dapat berjalan bersama dengan batasan baru. Pasangan dapat belajar melepaskan peristiwa masa lalu secara bertahap sembari menetapkan batasan yang lebih jelas untuk menjaga hubungan ke depannya.
5. Membangun kembali kedekatan
Kepercayaan yang rusak tidak dapat kembali dalam semalam. Karena itu, pasangan perlu membangun kembali kedekatan melalui berbagai pengalaman positif dan penuh kasih. Komunikasi yang terbuka, perhatian, serta konsistensi dalam perilaku sehari-hari dapat membantu menciptakan kembali rasa aman.
Kedekatan emosional maupun seksual juga mungkin membutuhkan waktu. Orang yang dikhianati tidak selalu langsung merasa nyaman untuk kembali terbuka atau intim dengan pasangannya.
Proses tersebut tidak perlu dipaksakan. Tujuannya adalah membangun kembali hubungan yang terasa aman dan memuaskan bagi kedua pihak. Perselingkuhan memang dapat menjadi pukulan besar bagi sebuah pernikahan. Namun, bagi pasangan yang memilih untuk tetap bersama, peristiwa tersebut tidak harus menjadi akhir hubungan.
Pemulihan membutuhkan kemauan dari kedua pihak, tanggung jawab dari orang yang berselingkuh, perubahan terhadap pola hubungan yang bermasalah, proses memaafkan, serta usaha untuk membangun kembali kepercayaan.
Hubungan yang berlanjut setelah perselingkuhan pun bukan berarti kembali persis seperti sebelum masalah terjadi. Dalam banyak kasus, pasangan perlu membangun kembali hubungan dengan aturan, batasan, dan pola komunikasi yang berbeda.(*/In)
