(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Categories: Sport

SITUS ARKEOLOGI DI DANAU SENTANI AKAN JADI DESTINASI WISATA PON XX

JAKARTA – Beberapa situs arkeologi yang ditemukan di kawasan Danau Sentani, di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua, akan dijadikan destinasi wisata untuk para atlet peserta Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX Papua 2020.

“Kami masih bingung di Papua, karena sedikitnya destinasi wisata di Papua untuk peserta PON. Kawasan Danau Sentani kaya akan situs arkeologi terutama situs megalitik,” ujar arkeolog dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto kepada media, Jumat malam, 6 Desember 2019.

Hari merupakan ketua dari penelitian arkeologi di kawasan Danau Sentani, dengan beranggotakan delapan peneliti, yaitu Gusti Made Sudarmika, Bambang Budi Otomo, Paul Yaam, Elvis Kabey, Eni Lestari, Irmawati, Esau Ohee dan Cory Ohee. Tim menemukan Situs Yomokho di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, yang merupakan kawasan Danau Sentani bagian barat.

Penelitian Hari berjudul “Identifikasi Jejak Hunian Awal Prasejarah di Kawasan Danau Sentani Bagian Barat,” dan menjadi salah satu dari enam penelitian terbaik dari 118 penelitian dari 10 balai arkeologi dan satu pusat penelitian arkeologi nasional tahun 2019.

“Situs-situs arkeologi ini dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata bagi peserta PON 2020. Situs-situs ini yaitu Situs Koning U Nibie dengan temuan lumpang batu, Situs Dondai dengan temuan menhir dan papan batu, Situs Warakho dengan tinggalan arkeologi berupa papan batu,” kata Hari.

Hari juga menyampaikan hal tersebut dalam presentasinya di Seminar Penelitian Arkeologi Terbaik se-Indonesia 2019 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis, 5 Desember 2019.

Selain itu, Hari melanjutkan, hasil penelitian arkeologi tahun sebelumnya yaitu situs lumpang batu di Kampung Ayapo, Situs Megalitik Tutari, Situs Yomokho, juga berpotensi sebagai destinasi wisata. “Tinggal mengemasnya lebih baik lagi, yaitu dengan memperbaiki fasilitas-fasilitas pendukung seperti toilet, pemasangan papan informasi situs,” kata Hari. “Serta pelatihan bagi penjaga situs atau pemandu.”

Menurutnya, agar bisa tercapai, semua pihak harus bekerja sama dan saling mendukung, baik dari dinas terkait, tokoh adat, tokoh masyarakat dan pemilik tanah ulayat situs.

“Masyarakat sekitar situs juga perlu dilibatkan, yaitu dengan menggali potensi ekonomi kreatif setempat, seperti kerajinan noken, lukisan kulit kayu, kerajinan miniatur perahu tradisional Sentani, kerajinan ukiran Sentani, serta kuliner tradisional Sentani,” tambahnya.(*/Dan)

orbit

Recent Posts

PULAU SUMATRA TITIK GERBANG AWAL JEJAK ISLAM DI NUSANTARA

Sumatera memegang peranan penting sebagai pintu gerbang utama masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kendati…

8 jam ago

KAMAR MANDI HOTEL SELALU TAK ADA KAYUNG, KENAPA?

JAKARTA - Pernahkah traveler memperhatikan, di dalam kamar mandi hotel biasanya tidak ada gayung. Kenapa…

8 jam ago

SEJUMLAH RESTORAN LARANG BERMAIN PONSEL, IMBALAN MAKANAN GRATIS

JAKARTA - Aturan makan tanpa sibuk main ponsel mulai diterapkan sejumlah restoran. Ada yang mengunci…

8 jam ago

TRAGIS, 500 RENTAL MOTOR DIKUASAI WNA, HANYA 5 BERIZIN SISA BODONG

DENPASAR - Penyewaan motor menjamur di Bali, tetapi banyak yang izinnya bodong. Pemprov Bali mencatat…

9 jam ago

KATARAK BISA MENYERANG YANG MUDA, INI FAKTOR RESIKONYA

JAKARTA - Katarak identik dengan penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Namun, anggapan bahwa katarak…

9 jam ago

JEJAK SEJARAH BATIK, KAIN BATIK SUDAH ADA DARI ZAMAN KERAJAAN

JAKARTA - Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan tersebut berkaitan dengan…

9 jam ago