SYIAR TAUHID NABI IBRAHIM AS YANG DIABADIKAN SURAT AL AN’AM

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Kisah Nabi Ibrahim dibahas di sembilan surah dalam Alquran (al-baqarah, al-an’am, at-taubah, Ibrahim,. Maryam, al-Anbiya Asy-Syura, Ash-shafaat dan al-zukhruf). Surah Al-Anam ayat 76 sampai 83 menceritakan detail bagaimana bapaknya para nabi ini mencari keyakinannya yakni tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah dan mendakwahkan ketauhidannya kepada umatnya.

Ayat 76 yang artinya “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Menurut Syaikh Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir mengatakan, ketika malam tela gelap, yakni Allah menyelimuti malam dengan kegelapan dia melihat sebuah bintang.

Menurutnya ada pendapat mengatakan bahwa dia melihat Jupiter, dan pendapat lain mengatakan venus lalu dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Terdapat pendapat mengatakan kisah ini adalah ketika penglihatannya masih lemah karena terjadi pada masa kanak-kanaknya.

Pendapat lain mengatakan bahwa dia mengatakan ini dengan tujuan untuk memberikan hujjah atas kaumnya, seakan-akan dia adalah orang yang menggambarkan keadaan mereka dan kepercayaan mereka agar mereka tersindir. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata sesungguhnya sesuatu yang terbenam tidak akan menjadi tuhan, karena tuhan adalah Dzat yang menjaga langit dan bumi.

Maka dari dia Ibrahim dalam ayat 76 itu berkata. “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Yakni tuhan-tuhan yang terbenam.

Begitu juga ketika Nabi Ibrahim melihat bulan dan matahari yang ketika terbit dia bercahaya redup cahaya keduanya ketika tenggelam. Komentar Nabi Ibrahim terhadap bulan dan matahari sama ketika melihat bintang yakni dia tidak suka terhadap yang tenggelam.

Komentar Nabi Ibrahim terhadap bulan diabadikan dalam ayat 77 yang artinya “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Sementara komentarnya terhadap matahari diabadikannya dalam ayat 78 yang artinya . “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Menurut tafsir Al-Muyassar Kementerian Agama Saudi Arabia ayat 78 ini ketika Ibrahim melihat matahari telah terbit sedangkan matahari juga telah dijadikan kaumnya sebagai Tuhan selain Allah, maka dia berkata kepada kaumnya sebagai bentuk sindiran.

“Inilah tuhanku, ini adalah bintang yang paling besar”. Dan yang dimaksud Ibrahim adalah: “Apakah ini tuhan yang kalian percayai?” Dan yang dia maksud dengan paling besar adalah paling terang cahayanya dan lebih utama untuk dijadikan tuhan; dan ini juga termasuk dari sindirannya.

Namun ketika matahari itu tenggelam dengan datangnya malam, ia berkata: “Aku berlepas diri dari kesyirikan kalian dengan menyembah berhala dan bintang-bintang. Ketika Ibrahim menyebutkan ‘matahari’, dia menggunakan kata tunjuk ‘هذا’ dan tidak menggunakan ‘هذه’ agar perkataannya mempunyai satu gaya bahasa.

Dan ini juga sebagai penyucian kata ‘tuhan’ sepenuhnya sehingga tidak menjadikannya bersanding dengan tanda-tanda kata bentuk muannast, dan karena kata ‘الشمس’ (matahari) bukan merupakan kata muannast hakiki, namun muannast secara majas.

“Ibrahim telah berhasil menyampaikan kebenaran kepada kaumnya dengan menjelaskan bahwa menyembah bintang-bintang merupakan hal yang batil, dan dengan kembali kepada fitrah manusia sesuai dengan penciptaan Allah, yaitu untuk menyembah dan mengesakan-Nya,” tulis tafsir Al-Muyassar.

Setelah Nabi Ibrahim mengomentari bahwa bintang, bulan dan matahari tak patut disembah, Nabi Ibrahim mulai memperkenalkan Allah SWT yaitu Tuhan yang patut disembah. Bagaimana Nabi Ibrahim memperkenalkan Tuhannya itu diabadikan ayat 79.

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Menurut tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) bahwa ayat 79 itu tafsirnya. “Sesungguhnya aku memurnikan agamaku hanya kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, serta berpaling dari ajaran syirik menuju ajaran tauhid yang murni. Dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik yang menyembah tuhan lain bersama menyembah Allah.”

Namun kaumnya itu setelah dikenalkan tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah itu bukan percaya dan mengikuti keyakinan Ibrahim malah membantahnya. Meski dibantah Nabi Ibrahim tetap teguh pendiriannya.

Bantahan kaumnya itu diabadikan dalam ayat 80 yang artinya. “Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?”

Setelah dibantah oleh umatnya, dalam ayat 81 Nabi Ibrahim menegaskan bahwa dia tidak merasa takut terhadap berhala-berhala yang umatnya sembah. Ayat 81 yang artinya.

“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?

Dalam ayat selanjutnya yakni 82 Nabi Ibrahim mengatakan bahwa “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Atas usaha mengenalkan ketauhidan kepada umatnya itulah Allah memuliakan nabi Ibrahim dengan memberikan hujjah atau pandai memecahkan suatu tanda melalui argumentasi. Hal ini seperti diabadikan dalam ayat 83 yang artinya.

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Menurut tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah/Markaz Ta’dzhim Alquran di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah bahwa yang dimaksud hujjah dalam ayat 83 itu adalah.

“Allah telah memberi Nabi Ibrahim hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang dipakai untuk mendebat kaumnya, sehingga dia dapat mengalahkan mereka. Dan Allah telah memberinya ilmu, hikmah, dan keyakinan. Allah Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya.”(*/Tian)

Loading...