(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Indonesia menjadi surganya tanaman herbal yang dapat mencegah COVID-19. Hal ini dibuktikan oleh sejumlah kalangan peneliti di Indonesia, yang belakangan sering unjuk gigi.
Ketua Program Studi Profesi Apoteker, Departemen Farmakologi & Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM, Dr Ika Puspitasari, MSi, Apt, mengatakan, untuk meningkatkan imunitas tubuh demi mencegah COVID-19, dapat memanfaatkan tanaman herbal. Banyak jenis tanaman herbal yang terbukti ampuh mencegah COVID-19.
“Ada beberapa herbal yang pernah diteliti baik secara in vitro (pada sel) maupun in vivo pada hewan uji yang bisa mendongkrak imun tubuh,”tuturnya, Senin (30/3/2020), dilansir dari situs resmi Universitas Gadjah Mada.
Ika menyebutkan, ada 18 herbal yang pernah diteliti dan terbukti mampu meningkatkan imunitas. Beberapa herbal tersebut antara lain;
1. Kembang Sepatu (Hibiscus rosasinensis)
2. Brotowali (Tinospora cordifolia)
3. Teen (Ficus carica)
4. Lidah buaya (Aloe vera)
5. Murbei (Morus alba)
6. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)
7. Bawang putih (Allium sativum)
8. Kunyit (Curcuma longa)
9. Orang-aring (Eclipta alba)
10. Mangga (Mangifera indica)
11. Mimba (Azadirachta indica)
12. Mengkudu (Morinda citrifolia)
13. Pegagan (Centella asiatica)
14. Cabe Jawa (Piper longum)
15. Echinace (Echinacea pupurea),
16. Meniran (Phyllanti niruri)
17. Keladi tikus (Thyponium flagelliforme)
18. Sarang semut (Myrmecodia tuberosa)Ika menerangkan, jika seseorang mengonsumsi salah satu dari jenis herbal tersebut dapat mendongkrak sistem imun. Atau Anda juga dapat mencampurkan tanaman herbal di atas menjadi ramuan yang enak diminum.
Untuk aturan minumnya, smabung Ika, Anda dapat mengonsumsi sepanjang waktu tertentu, maksimal 8 minggu. Jangan lebih dari 8 minggu, sebab pengawas obat di beberapa negara Eropa, merekomendasikan waktu penggunaan bahan bersifat imunomodulator tidak lebih dari 8 minggu.
“Konsumsi tidak boleh lebih dari 8 minggu agar jika pasien mengalami gangguan kesehatan dapat diketahui, tidak tertutupi oleh efek imunomodulator tersebut. Jika terjadi gangguan kesehatan maka penderita harus memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” paparnya.
Selain itu, penggunaan imunomodulator tidak direkomendasikan untuk diberikan pada pasien-pasien penyakit kronis seperti leukemia, tuberkulosis, dan penyakit autoimun seperti SLE, Rheumatoid artritis, Idiopatik trombositopeni purpura, dan DM tipe 1.Namun Ika kembali menegaskan bahwa pola hidup sehat dan pola makan adalah hal yang paling penting dalam mencegah COVID-19. Ramuan herbal hanyalah membantu seseorang untuk meningkatkan imunitas tubuh, dibarengi dengan cara pencegahan virus corona yang lain.
“Selain itu, minum air putih sedikitnya 6 gelas/hari, olahraga setidaknya 3 kali dalam seminggu minimal 30 menit, dan menjaga kebersihan tubuh secara keseluruhan dengan mandi setiap hari,” tuturnya.
Tidak kalah penting, sambung Ika, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer setiap kali akan makan atau minum dan keluar dari kamar mandi, serta istirahat atau tidur yang cukup 6-8 jam/hari.(*/Di)
Sumatera memegang peranan penting sebagai pintu gerbang utama masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Kendati…
JAKARTA - Pernahkah traveler memperhatikan, di dalam kamar mandi hotel biasanya tidak ada gayung. Kenapa…
JAKARTA - Aturan makan tanpa sibuk main ponsel mulai diterapkan sejumlah restoran. Ada yang mengunci…
DENPASAR - Penyewaan motor menjamur di Bali, tetapi banyak yang izinnya bodong. Pemprov Bali mencatat…
JAKARTA - Katarak identik dengan penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. Namun, anggapan bahwa katarak…
JAKARTA - Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan tersebut berkaitan dengan…