UIN SUNAN KALIJAGA TEMBUS PERINGKAT KEDUA NASIONAL, PATAHKAN STREOTIF KAMPUS ISLAM
YOGYAKARTA – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menorehkan prestasi dalam pemeringkatan perguruan tinggi dunia. Kampus tersebut menempati posisi kedua nasional setelah Universitas Indonesia (UI) dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027, sekaligus masuk kelompok peringkat 801–1.000 dunia.
Capaian tersebut dinilai memperkuat posisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam persaingan pendidikan tinggi nasional sekaligus mematahkan stereotip bahwa kampus Islam hanya berorientasi pada kajian keagamaan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno mengatakan, prestasi UIN Sunan Kalijaga harus menjadi momentum untuk memperluas pandangan masyarakat terhadap kualitas PTKIN. Menurut dia, kampus Islam memiliki kapasitas akademik yang tidak hanya terbatas pada pengembangan ilmu agama, tetapi juga riset dan ilmu pengetahuan secara luas.
“PTKIN harus dilihat dari kualitas pendidikan, kekuatan riset, dan kontribusi keilmuannya. Capaian UIN Sunan Kalijaga memperlihatkan bahwa kampus Islam mampu berada di jajaran teratas, bahkan melampaui banyak perguruan tinggi umum dalam pemeringkatan internasional,” ujar Suyitno dalam keterangan persnya, Senin (2/11/2026).
Dia menilai, keunggulan studi keislaman justru dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan berbagai disiplin ilmu. Karena itu, mahasiswa PTKIN perlu mendapatkan kesempatan yang sama dalam penguasaan teknologi, pengembangan penelitian, hingga menghasilkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Upaya memperlihatkan keluasan keilmuan mahasiswa PTKIN tersebut akan diwujudkan melalui Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN. Kegiatan yang berlangsung di UIN Sunan Kalijaga pada 3–7 November 2026 itu diikuti 497 finalis dari 54 PTKIN yang berkompetisi dalam 18 cabang bidang agama, sains, dan riset.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Sahiron mengatakan, OASE menjadi ruang bagi mahasiswa PTKIN untuk menunjukkan kemampuan akademik dan inovasi di berbagai bidang. Menurut dia, mahasiswa kampus Islam tidak hanya mempelajari agama, tetapi juga mengembangkan teknologi dan sains.
“Di PTKIN, mahasiswa mempelajari agama sekaligus mengembangkan robotika, nanoteknologi, teknologi pangan, hingga konservasi energi. Keluasan ini harus ditopang kedalaman riset. Dengan begitu, integrasi keilmuan terlihat dalam kualitas karya yang bisa diuji,” ucap Sahiron.
Dia menambahkan, reputasi akademik tidak cukup dibangun melalui kompetisi atau pemeringkatan semata. Penguatan metodologi penelitian, pendampingan dosen, ketersediaan akses laboratorium, serta kesempatan mahasiswa mempresentasikan dan mempertahankan hasil penelitian harus menjadi bagian dari pembinaan akademik secara berkelanjutan.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan mengatakan, pihaknya telah menyiapkan berbagai kebutuhan teknis untuk memastikan penyelenggaraan OASE III PTKIN berjalan optimal. Persiapan tersebut meliputi penyelarasan petunjuk teknis, mekanisme penjurian, dukungan teknologi informasi, hingga penyediaan fasilitas kegiatan.
“Kami menyiapkan penyelenggaraan yang memungkinkan peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kejelasan mekanisme lomba, dukungan fasilitas, dan koordinasi teknis menjadi perhatian agar kualitas karya memperoleh ruang penilaian yang layak,” kata Noorhaidi.
Selain kompetisi, OASE III PTKIN juga akan menghadirkan ekspo inovasi yang melibatkan 34 PTKIN. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan dosen diharapkan dapat saling mengenalkan hasil penelitian, bertukar gagasan, serta menjajaki peluang kolaborasi riset lintas kampus.
Capaian UIN Sunan Kalijaga dalam THE WUR 2027 dan penyelenggaraan OASE III PTKIN menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing perguruan tinggi Islam. Integrasi ilmu agama, sains, teknologi, dan riset diharapkan semakin mempertegas kontribusi PTKIN dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan menjawab tantangan masyarakat.(Republika/Fa)
