WARAQAH BIN NAUFAL, ORANG NASRANI PERTAMA MENGIMANI NABI MUHAMMAD

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, begitu nama lengkapnya. Waraqah adalah ahli Bible, penganut Kristen Nestorian yang tinggal di Makkah. Waraqah mengimani kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW . Hanya saja, beberapa hari setelah kenabian, beliau wafat.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Hidup Muhammad” menceritakan ketika Nabi Muhammad SAW ketakutan usai menerima wahyu pertama kali, Siti Khadijah menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal.

Khadijah menceritakan apa yang pernah dilihat dan didengar Nabi Muhammad dan menceritakan pula apa yang dikatakan suaminya itu kepadanya.

Waraqah menekur sebentar, kemudian katanya: “Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah, dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah.”

Di waktu yang berbeda, pada saat Rasulullah pergi akan mengelilingi Ka’bah, Waraqah bin Naufal menjumpainya. Sesudah Nabi Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqah berkata: “Demi Dia Yang memegang hidup Waraqah. Engkau adalah Nabi atas umat ini,” katanya.

“Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahuiNya pula,” lanjutnya.

Lalu Waraqah mendekatkan kepalanya dan mencium ubun-ubun Nabi Muhammad. Rasulullah pun segera merasakan adanya kejujuran dalam kata-kata Waraqah itu, dan merasakan pula betapa beratnya beban yang harus menjadi tanggungannya.

Namun takdir Allah berhendak lain. Waraqah meninggal pada tahun 610 M, tidak lama setelah Nabi Muhammad menerima wahyu pertama.
Dalam riwayat al-Bukhari, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,

ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ

“Kemudian tak berselang lama Waraqah meninggal dan wahyu berhenti beberapa lama.” (HR al-Bukhari Kitab Bad’ul Wahyi No. 3 dan Muslim Kitabul Iman, Bab Bad’ul Wahyi, No. 160).

Nasab Waraqah dari pihak ayah adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, sedang dari pihak ibu adalah Hindun binti Abu Kabir bin ‘Abd bin Qushay.

Dalam riwayat lain dikatakan, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Sayyidah Khadijah sudah menemui Waraqah ketika ia mendengar cerita pembantunya, Maisarah, tentang perkataan Rahib yang melihat Muhammad dilindungi oleh dua malaikat.

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza—ia adalah anak pamannya, seorang Nasrani yang bersungguh-sungguh mengikuti kitab-kitab, dan orang yang berilmu di (kalangan) manusia—apa yang diceritakan pembantunya, Maisarah, kepadanya tentang perkataan seorang pendeta, bahwa ia melihat Muhammad selalu dinaungi oleh dua malaikat.

Waraqah bin Naufal berkata: ‘Jika (ceritamu) ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada nabi yang dinantikan untuk umat ini, dan inilah waktunya’.”

Para Hanif
Sejatinya, pada saat Nabi Muhammad masih muda, ada 4 orang yang gelisah terhadap pemujaan berhala di Makkah. Ada empat orang namanya paling menonjol. Keempat orang itu adalah Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Jahsy , Zayd bin Amir, dan Utsman bin Huwayrits.

Ibn Ishaq dalam kitabnya berjudul Sirah Rasulullah menggambarkan empat orang ini sebagai para hanif (bentuk jamak: hunafa; secara harfiah berarti ‘mereka yang kembali’) atau orang-orang yang mempertahankan kemurnian tauhid Ibrahim.

Sejak muda, Waraqah tekun mempelajari Injil dan manuskrip-manuskrip kuno Nestorian yang di antaranya meramalkan kedatangan seorang nabi baru.
Waraqah awalnya seorang penyembah berhala, sama seperti orang Makkah pada umumnya. Ia kemudian berpindah keyakinan menjadi penganut Kristen Nestorian.

Reputasi Waraqah lumayan baik di Makkah karena intelektualitasnya, meski dia sering mengkritik penyembahan berhala.

Di saat mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia mempercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala. Ia mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah).

Imam Ibnu Ishaq berkata: “Ia seorang Nasrani yang benar-benar mengikuti kitab-kitab.” Ia menentang penyembahan berhala yang dilakukan masyarakatnya.

Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tarîkh Madînah Dimasyq menyebut salah satu riwayat yang menunjukkan keyakinannya adalah perkataannya terhadap teman-temannya:

أتعلمون والله ما قومكم على دين، ولقد أخطأوا الحجة، وتركوا دين إبراهيم

“Apakah kalian mengetahui, demi Allah kaum kalian tidak berada dalam agama (yang benar). Cara pandang mereka salah. Mereka telah meninggalkan agama Ibrahim.”

Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid

Imam Ibnu ‘Asakir juga berkisah bahwa Waraqah bin Naufal adalah orang yang haus dengan kebenaran. Ia berkelana ke sana-kemari mencarinya, melintasi berbagai negeri dan kota. Dalam salah satu riwayat diceritakan:

“Sesungguhnya Zaid bin Amr dan Waraqah bin Naufal keduanya berkelana mencari agama (yang benar) hingga keduanya sampai kepada seorang pendeta di Mosul.

Pendeta itu berkata kepada Zaid bin ‘Amr: ‘Dari mana kau berasal, wahai penunggang unta?’

Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Dari rumah Ibrahim (Ka’bah/Makkah).’

Pendeta itu berkata: ‘Apa yang sedang kau cari?’

Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Aku sedang mencari agama (yang benar).’

Pendeta itu berkata: ‘Kembalilah, sesungguhnya kau telah dekat dengan kemunculan (agama yang benar) di tanahmu (daerahmu).’

Zaid bin Amr berkata: ‘Adapun Waraqah menjadi seorang Nasrani, tapi aku kehilangan (ketertarikan) terhadap agama Nasrani, karenanya Waraqah tidak sependapat denganku.

Kemudian Zaid bin Amr kembali (ke Makkah).”

Kondisi Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama, usia Waraqah sudah agak lanjut dan matanya telah setengah buta.

Waraqah kemudian memperingatkan tugas kenabian akan sangat berat. Nabi-nabi besar sebelumnya, kata Waraqah, selalu tidak mendapat tempat semestinya dalam masyarakat.

Menjadi nabi adalah tersingkir dan kesepian. Tapi Waraqah tetap memberi garansi: dirinya akan senantiasa melindungi dan menolong Muhammad.

Waraqah adalah seorang yang teguh dengan ajaran yang hanif, ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa ‘alaihimassalam. Karena itu, Rasulullah bersabda,“Kemudian Waraqah meninggal (tak lama setelah meyakini kenabian Muhammad), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat sang pendeta (Waraqah bin Naufal) di surga mengenakan baju hijau.” (Imam Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf)

Al-Tirmidzi juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata: Aku melihat Waraqah bin Naufal dalam mimpi, dia mengenakan baju putih. Jika dia termasuk ahli neraka, dia tidak akan mengenakan baju putih.

Hadits ini lemah dalam isnadnya karena ada Utsman bin Abdurrahman, tetapi hadits tersebut dikuatkan dengan perkataan Rasulullah SAW berikut ini:

“Aku melihat pendeta—maksudnya Waraqah—dia mengenakan baju sutera, karena dia adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan membenarkanku.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili)

Dengan dasar beberapa riwayat di atas, bisa dikatakan bahwa Waraqah bin Naufal termasuk ahli surga seperti yang dikatakan oleh Rasulullah. Salah satu alasan kenapa Waraqah termasuk ahli surga, Imam Abu al-Qasim al-Suhaili mengatakan: “Karena Waraqah bin Naufal (selalu) mengingat Allah dalam (setiap) perjalanannya di masa jahiliyah dan (selalu) bertasbih kepada-Nya.”

Imam Abu al-Qasim al-Suhaili menunjukkan potongan syair Waraqah bin Naufal:

لَقدْ نَصَحْت لأقوام وقلت لهم: أنا النذير فلا يغرُرْكم أحَدٌ, لَا تَعْبُدنّ إلَهًا غيرَ خالِقِكم

“Sungguh telah kunasihati orang-orang, kukatakan pada mereka: aku adalah pengingat, agar kau tak mudah terbujuk orang. Jangan pernah kau sembah tuhan yang bukan penciptamu.”(*/Da)

Loading...