ABDULLAH IBNU RAWAHA, SANG PENYAIR YANG SYAHID DI MEDAN PERANG

Spread the love

Wahai Diri
Jika Kau Tidak Gugur di Medan Juang
Kau Tetap Akan Mati
Walau di Atas Ranjang

Itu adalah ucapan Abdullah Ibnu Rawahah yang dikenang banyak orang. Sahabat Nabi Muhammad salallahu alaihi wa salam (SAW) ini memang seorang penyair. Dia penulis yang tinggal di Madinah, suatu lingkungan yang belum maju, kala itu. Penduduknya kebanyakan buta huruf. Hanya sedikit saja yang bisa baca tulis. Banyak orang mengagumi syair ciptaan Ibnu Rawahah. Untaian kata syair-syairnya amat memesona.

Ia sahabat dari kalangan Anshor yang mengikuti Bai’ah Aqobah Ula dan Bai’at Aqobah Tsani. Semenjak ia memeluk Islam, kemampuan bersyair itu dibaktikannya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya. Tak jarang beliau meminta Ibnu Rawahah lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, Rasulullah duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Nabi bertanya kepadanya: “Apa yang engkau lakukan jika hendak mengucapkan syair?”

“Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan” jawab Abdullah, sembari mengucapkan untaian kalimat indah.

Syair itu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya begini:

“Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia, dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri. Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka. Seandainya Anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang Anda bawa. Sebagaimana la telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa”.

Mendengar itu Rasulullah menjadi gembira. Beliau bersabda:”Dan engkau pun akan diteguhkan Allah”.

Pada saat Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di depan beliau sambil membaca syair dari rajaznya:

“Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedeqah dan salat! Maka mohon diturunkan sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang. Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang”.

Pada masa itu, umat Islam sering mengucapkan dan mengulang-ulang syair-syairnya yang indah karya Ibnu Rawahah.

Hanya saja, sang penyair yang amat produktif ini menjadi bermuram durja tatkala turun Firman Allah SWT:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat”. (Q.S. Asy-syu’ara: 224)

Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah menyebut kala itu, orang-orang kafir berkata, “Alquran hanyalah puisi karangan seorang penyair bernama Muhammad.”

Allah memperlihatkan kepalsuan tuduhan mereka dengan memberikan penjelasan bahwa Alquran itu penuh dengan kata-kata bijak (hikam) dan aturan-aturan hukum (ahkâm). Gaya bahasa Alquran itu sangat berlainan dengan gaya bahasa kebanyakan para penyair di masa itu yang sarat dengan kepalsuan dan kebohongan. Dan watak Nabi Muhammad sendiri pun berbeda dengan watak para penyair kebanyakan yang selalu berkata bohong.

Duka Abdullah ibnu Ruwahah jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya. Allah SWT berfirman:

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱنتَصَرُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ ۗ وَسَيَعْلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ أَىَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (Q.S. Asy-syu’ara : 227)

Tafsir Al-Mukhtashar menjelaskan Allah mengecualikan dari para penyair itu para penyair yang mendapatkan hidayah dengan keimanan, dan beramal shalih, serta memperbanyak berzikir (mengingat dan menyebut) Allah.

Mereka melantunkan syair tentang mentauhidkan Allah. Pujian kepada-Nya, Dzat Yang Mahatinggi namaNya, membela Rasulullah Muhammad, mengucapkan kata-kata dengan hikmah, nasihat dan adab-adab yang luhur, serta membela Islam.

Mereka mengolok orang yang mengolok-Nya atau mengolok Rasul-Nya, sebagai sanggahan terhadap para penyair dari orang-orang kafir. Dan orang-orang yang zalim terhadap diri mereka dengan perbuatan syirik dan maksiat dan menzalimi orang lain dengan melecehkan hak orang atau menganiaya mereka atau dengan tuduhan-tuduhan yang batil.

Sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya sebagai slogan perjuangan:

“Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!”

la juga menyorakkan teriakan perang: “Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui pada Rasulnya”.

Dan datanglah waktunya perang Muktah.Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam.

Ia berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;

“Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang setan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan mati syahid di medan perang…!!”

Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang …., pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!!

Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar 200.000 orang. Barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya ….!

Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata:

“Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”.

Tetapi. Ibnu Rawahah,. bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap:

“Kawan-kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah ..!

Ayohlah kita maju ..! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah … !”

Dengan bersorak-sorai Kaum muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: “Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah..!”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000.

Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.

Pemimpin pasukan muslim yang pertama Zaid bin Haritsah gugur. Disusul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah.

Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kananya Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang datang membanjir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”

(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati !”

Ibnu Rawahahpun maju menyerbu. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya.

Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca.

Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan. Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata:

“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula. Beliau berdiam sebentar, lalu diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia-pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …”(*/Tian)

Loading...