DZULQARNAIN, CERMIN PEMIMPIN IDOLA RAKYAT

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Al-Qur’an adalah kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa salam (SAW). Ia merupakan media interaksi antara Sang Khalik (Allah) dengan makhluk (hamba)-Nya. Dalam interaksi tersebut, Al-Qur’an menuturkan isi kandungannya dalam beberapa kategori tematik seperti; hal-hal yang berkaitan dengan tauhid dan keimanan, ibadah dan syari’ah (hukum), mu’amalah, ilmu dan akhlak, sejarah bangsa-bangsa terdahulu, kisah-kisah, dan lain sebagainya.

Kisah-kisah di dalam al-Qur’an secara sederhana dapat dipetakan menjadi 3 jenis. Pertama, kisah para Nabi (qashashal- anbiya’). Kedua, kisah para tokoh, baik secara individu maupun kelompok/golongan yang diceritakan dalam al-Qur’an; meliputi tokoh baik dan bijak maupun tokoh jahat dan ingkar. Ketiga, kisah yang terkait dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi di masa Rasulullah SAW. Salah satu kisah dalam al-Qur’an yang termasuk jenis kedua yakni kisah Dzulqarnain, seorang tokoh yang bijak lagi beriman kepada Allah yang melakoni pengembaraan.

Al–Qur’an al-Karim mengisahkan Dzulqarnain dalam surat Al-Kahfi (18): 83-98. Sederetan ayat-ayat yang berjumlah 16 ayat itu menceritakan pokok-pokok kisah perjalanan Dzulqarnain dengan sangat menarik perhatian.

Al-Qur’an juga menguraikan cukup detail perihal sifat-sifat utama Dzulqarnain. Yakni pribadi bertauhid dan bertakwa, serta menjunjung tinggi nilai-nilai belas kasih dan keadilan.

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS. Al Kahfi: 84).

Dzulqarnain adalah raja yang adil. Ketika Allah serahkan kewenangan kepadanya untuk berbuat yang dia suka kepada rakyatnya,

قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka” (QS. al Kahfi: 86)

Dzulqarnain tak berbuat sewenang-wenang, yang zalim dia beri hukuman, yang baik dia beri ganjaran.

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى? رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى? وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Berkata Dzulqarnain: “Adapun yang zalim, maka kami kan menghukumnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang pedih. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami perintah kepadanya yang mudah dari perintah-perintah kami” (QS. al Kahfi: 88).

Dzulqarnain melakukan sebuah ekspedisi. Seperti diterangkan Al-Qur’an, ia mempunyai tiga ekspedisi penting, yakni ke bumi belahan barat, timur, hingga akhirnya ke daerah-daerah yang terdapat barisan pegunungan. Ia senantiasa berhadapan dengan berbagai kaum pada setiap ekspedisi.

Terkait ekspedisi ini, sebagian ahli tafsir percaya Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju utara. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah gunung yang berapitan, yang menjadi penghalang antara Ya’juj dan Ma’juj dengan manusia.

Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir tidak mengerti dan memahami percakapan. Namun, Allah SWT memberi hidayah kepada Dzulqarnain, sehingga bahasa kaum yang asing itu dapat dimengerti olehnya.

Kemudian, kaum itu pun mengeluh dan mengadu kepada Dzulqarnain tentang kejahatan Ya’juj dan Ma’juj. Kaum itu berkata,

قَالُوا۟ يَٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰٓ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka, dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran (upah) kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (QS al-Kahfi: 94)

Dzulqarnain pun mengabulkan permintaan mereka, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ia bangun sebuah benteng yang terbuat dari besi dan tembaga agar bangsa Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat menerobos ke dalam permukiman kaum tersebut. Seperti dia berkata, maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.

ءَاتُونِى زُبَرَ ٱلْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ ٱلصَّدَفَيْنِ قَالَ ٱنفُخُوا۟ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارًا قَالَ ءَاتُونِىٓ أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu”. (QS al-Kahfi: 96)

Ketika masyarakat menawarkan upah padanya atas jasa membuat dinding Dzulqarnain mengatakan:

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ

Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat)”. (QS. al Kahfi: 95).

Dan ketika selesai tembok itu dibuat, Dzulqarnain tidak berbangga-bangga dengan hasil karyanya dan takjub dengan dirinya sendiri. Dzulqarnain memuji Allah dan menyandarkan semua padaNya.

قَالَ هَ?ذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي

Dzulqarnain berkata: “Dinding Ini adalah rahmat dari Tuhanku” (al Kahfi: 98)

HikmahDari kisan Dzulqarnai dapat diambil hikmah. Pertama, bahwa Allah mengangkat derajat sebagian manusia atas sebagian yang lain dan memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki berupa kekuasaan dan harta, karena Dia yang maha kuasa dan yang mengetahui semua hikmah yang tersembunyi.
Kedua, siapa yang berkuasa maka tidak seharusnya dia mabuk kepayang dengan kekuasaannya, serta tidak semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk menyiksa dan menghukum orang yang dia mau. Dia harus memperlakukan orang yang baik dengan cara baik dan bersikap tegas terhadap orang yang jahat. Dengannya, dia bisa memberikan rasa keadilan kepada rakyatnya.

Ketiga, seorang penguasa hendaknya menjaga diri dari harta rakyatnya dan tidak menerima imbalan dari pekerjaan yang dia lakukan selama dia telah dicukupkan oleh Allah SWT, karena dengan sikap itu dia menjaga kehormatannya dan akan menambah kecintaan rakyat kepadanya.

Keempat, mengungkapkan kenikmatan yang telah Allah berikan adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Dan menunjukkan kelemahan seorang hamba karena dia tidak akan mampu kecuali atas pertolongan-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” [An-Naml/27:40]

Kelima, pelajaran akan abadinya amalan yang baik dan atsar perbuatan yang mulia. Sebagaimana yang dikisahkan dalam ayat yang mulia ini, maka kebaikan Dzulqarnain berupa kebaikan akhlaknya, keberanian, keluhuran cita-citanya, menjaga kehormatan diri, keadilan dan usahanya mengokohkan keamanan dan memberi kebaikan kepada orang baik serta memberi hukuman orang zalim, perbuatannya itu tetap dipuji dan diabadikan walaupun orangnya telah tiada.

Keenam, hendaknya seorang pemimpin mengupayakan keamanan bagi rakyatnya, menjaga mereka, mencegah dari kejelekan, menutup kekurangan dan memperbaiki mereka, menjaga harta mereka, mengarahkan kepada yang bermanfaat untuk mereka, dan menjaga hak-hak rakyatnya yang berada di bawah kekuasaan dan pengawasannya. Wallahu a’lam.(*/Tian)

Loading...