Sport

RUTIN OLAHRAGA BISA BANTU KURANGI RISIKO KANKER PAYUDARA

JAKARTA – Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus baru dan penyumbang kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 mencatat lebih dari 66 ribu kasus baru kanker payudara di Indonesia setiap tahunnya.

Di tengah tingginya angka tersebut, menjaga pola hidup sehat terutama rutin olahraga ternyata dapat membantu menekan risiko. Lantas, olahraga apa yang sebaiknya dilakukan untuk menurunkan risiko kanker payudara?

Dokter spesialis onkologi radiasi dr Kanika Sood Sharma mengatakan tidak ada satu jenis olahraga yang bisa disebut sebagai latihan terbaik untuk mencegah kanker payudara. Menurutnya, yang lebih penting adalah konsistensi beraktivitas fisik serta menyesuaikan jenis olahraga dengan usia, tingkat kebugaran, dan kemampuan tubuh.

“Olahraga dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan sejumlah faktor gaya hidup yang berkaitan dengan risiko kanker payudara. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah berat badan, khususnya penumpukan lemak di sekitar perut,” kata dia dilansir laman Hindustan Times, Jumat (18/9/2026).

Dia mengatakan jaringan lemak tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi. Jaringan tersebut juga dapat menjadi salah satu sumber hormon.

“Normalnya, hormon estrogen dan progesteron disekresikan oleh kelenjae gonad, dengan ovarium sebagai sumber utama, tetapi lemak juga merupakan salah satu sumber,” kata dia.

Menurut dia, semakin banyak lemak yang menumpuk di sekitar perut, semakin besar pula sumber tambahan estrogen yang tersedia. Kondisi tersebut dikaitkan dengan stimulasi estrogen yang tidak diimbangi (unopposed estrogen), yang merupakan salah satu penyebab kanker payudara.

“Tapi memanh olahraga tidak bisa secara spesifik menargetkan lemak perut saja. Jadi, fokus utamanya haruslah pada pengurangan lemak tubuh secara keseluruhan melalui aktivitas fisik rutin dan pola makan seimbang,” kata dr Sharma.

Dalam hal jenis olahraga, dr Sharma menyarankan perempuan tidak terpaku pada satu bentuk latihan. Aktivitas kardio tetap perlu menjadi bagian dari rutinitas karena membantu meningkatkan aktivitas kardiovaskular dan detak jantung.

“Setidaknya lakukan juga sejumlah aktivitas kardio,” kata dia.

Namun, latihan kekuatan juga tidak kalah penting, terutama bagi perempuan yang memasuki usia 35-40 tahun. Menurut dr Sharma, latihan kekuatan bukan hanya berkaitan dengan upaya mencegah kanker payudara, tetapi juga berperan dalam menjaga kesehatan tulang.

“Jika tidak, wanita bisa rentan terkena osteoporosis. Jadi penting juga untuk fokus pada latihan kekuatan, terutama setelah usia 35 hingga 40 tahun,” kata dr Sharma.

Latihan kekuatan dapat membantu mempertahankan otot sekaligus mendukung kesehatan metabolisme. Massa otot berperan dalam penggunaan glukosa dan sensitivitas insulin, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keseimbangan hormon.

“Pilihan olahraga dapat berupa streching, kardio, dan latihan beban, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi masing-masing. Intinya, perempuan perlu tetap aktif dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas, bukan sekadar dilakukan sesekali,” kata dia.

Berjalan kaki menjadi salah satu pilihan paling sederhana untuk menjaga tubuh tetap aktif. Meski demikian, dr Sharma mengatakan perempuan tidak perlu terobsesì dengan angka jumlah langkah tertentu.

Menurutnya yang lebih penting adalah mengurangi waktu yang dihabiskan dalam kondisi tidak aktif dan membiasakan tubuh untuk bergerak dalam kehidupan sehari-hari. “Jadi, manfaat aktivitas fisik tidak harus diukur berdasarkan tercapai atau tidaknya satu target angka langkah. Yang menjadi perhatian adalah seberapa konsisten seseorang bergerak dan mengurangi waktu sedentari,” kata dia.(*/Ta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *