(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4827125999327211", enable_page_level_ads: true });
Histori

UTSMAN BIN AFFAN TOLAK KEUNTUNGAN BISNIS UNTUK BANTU SESAMA DI MUSIM PACEKLIK

Di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pernah terjadi musim paceklik. Saat itu masyarakat dilanda kemarau dan banyak yang kelaparan.

Dikisahkan dalam ‘Tarbiyatul Aulad fil Islam’ terjemahan bahasa Indonesia karya Dr Abdullah Nashih ‘Ulwan, bahwa suatu ketika, kumpulan kafilah dagang dari Syam dengan seribu untanya membawa aneka ragam makanan dan pakaian. Mereka berhenti pada Utsman bin Affan.

Setelah itu para saudagar yang lain juga berlomba-lomba datang kepadanya dan meminta Utsman untuk menjual kafilah tersebut. Lantas Utsman berkata kepada mereka, “Berapa keuntungan yang akan engkau berikan kepadaku?”

Mereka pun menjawab, “Lima persen.”

Utsman berkata lagi, “Sungguh aku telah mendapatkan sesuatu yang akan memberiku lebih banyak dari itu.”

Mendengar itu, mereka tetap berusaha keras agar bisa memperoleh kafilah itu, dengan berkata, “Tidak pernah ada saudagar di antara kami yang berani memberi lebih daripada ini.”

Utsman berkata, “Sungguh aku sudah memperoleh sesuatu yang akan memberiku pada setiap dirhamnya 700 lebih. Sungguh aku mendengar Allah berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah ayat 261)

Utsman kemudian menunjukkan kepada para saudagar itu bahwa kafilah dan seisinya itu telah ia hibahkan kepada orang fakir Madinah. Kafilah tersebut berisi biji gandum, tepung, minyak, dan mentega. “Semua itu adalah sedekah bagi kaum Muslim,” demikian kata Utsman.

Dari riwayat tersebut, dapat dipetik sebuah pelajaran tentang betapa pentingnya saling tolong menolong kepada sesama yang memang membutuhkan pertolongan, tanpa mengharapkan suatu imbalan atau keuntungan dalam bentuk apapun.

Dalam konteks tersebut, Dr Abdullah Nashih ‘Ulwan menjelaskan, setiap orang tua penting mengajari anak-anaknya dasar-dasar persaudaraan agar tumbuh dalam diri mereka rasa kasih-mengasihi kepada sesama Muslim.

“Persaudaraan yang benar melahirkan perasaan-perasaan mulia di dalam jiwa Muslim untuk membentuk sikap-sikap positif seperti saling tolong menolong, mengutamakan orang lain, kasih sayang dan pemberian maaf serta menjauhi sikap-sikap yang negatif,” jelas ‘Ulwan.(*/Tian)

orbit

Recent Posts

LUANGKAN WAKTU 10 MENIT, LATIHAN RINGAN BISA TINGKATKAN MOOD

JAKARTA - Untuk membantu meningkatkan suasana hati dan fungsi kognitif, olahraga tidak selalu harus dilakukan…

14 jam ago

MENGKOSUMSI DURIAN BISA BIKIN TENKANAN DARAH NAIK, INI FAKTANYA

JAKARTA - Durian menjadi salah satu buah yang difavoritkan masyarakat Indonesia. Selain punya bentuk dan…

14 jam ago

LIBURAN AKHIR PEKAN DI PANTAI SEKITARAN JAKARTA, MASUK GRATIS

JAKARTA - Destinasi tepi laut yang menawarkan pemandangan pantai pasir putih serta mercusuar ikonik ternyata bisa…

15 jam ago

CARA MEMBEDAKAN BENER MAU MAKAN ATAU LAPAR SESAAT

JAKARTA - Tengah malam tiba-tiba ingin makan? Sebelum membuka kulkas atau memesan makanan, coba cek…

15 jam ago

5 SAHABAT NABI KAYA RAYA DAN SUKA MENYUMBANGKAN HARGA DI JALAN ALLAH SWT

Kekayaan dalam pandangan Islam merupakan bentuk rahmat serta amanah yang dapat dijadikan sarana memperbanyak amal…

1 hari ago

PENULARAN HIV YANG PALING UMUM, LEWAT SEKS HINGGA JARUM SUNTIK

JAKARTA - HIV masih sering dikaitkan dengan berbagai anggapan yang keliru, terutama soal bagaimana virus…

1 hari ago