7 BINTANG, 7 NABI DAN 7 KATEGORI UMAT MENURUT ULAMA

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Allah SWT menciptakan alam semesta pada hari Ahad termasuk bintang-bintang. Allah membagi penciptaan bintang-bintang itu dalam tiga rupa.

Syekh Ibnu Hasan Bisry At Turjani dalam karya tulisnya “Menyikap Alam Akhirat” menjelaskan yang pertama bintang yang dinamakan tsawabit (bintang tetap) sama yakni bintang-bintang yang tidak bergerak maupun terbenam. Kedua bintang-bintang yang terbit dan terbenam. Ketiga bintang-bintang yang beredar di tempat edarannya.

Syekh Ibnu Hasan Bisry At Turjani mengatakan, dari ketiga jenis bintang ini ada tujuh bintang yang paling besar. Di antara bintang-bintang yaitu, Zuhal, Musytari, Marikh, Syamsu, Zahro, Athroid, dan Qamar.

“Di sini menunjukkan masing-masing bintang ini memiliki fungsi masing-masing dan memiliki kelebihan masing-masing pola,” katanya.

Demikian pula dengan tujuh para bintang ada yang paling agung dan mulia. Mereka adalah Nabi Syaits, Idris, Ibrahim, Musa, Daud, Isa dan Muhammad SAW. Allah SWT telah memberikan pada masing-masing mereka itu suhuf-suhuf dan kitab kitab.

Nabi Syaits mendapat 50 shahifah. Nabi Idris mendapat 30 shahifah. Nabi Ibrahim mendapat 20 shahifah. Nabi Musa mendapat kitab Taurat.

Sementara itu, Nabi Daud mendapat kitab Zabur, Nabi Isa mendapat kitab Injil, dan Nabi Muhammad SAW mendapat kitab Alquran.

Begitu pula dengan umat Muhammad terbagi menjadi tujuh golongan yaitu shiddiqun, amiluun, buddala, syuhada, hujjaaj, muthi’uun, dan Aashuun. Masing-masing golongan ini memiliki perbedaan keadaannya sesuai dengan derajat keilmuan dan amalannya.

Syekh Ibnu Hasan Bisry At Turjani mengatakan, shiddiquun kelak akan melintasi sirath al-mustaqim seperti kilat, aamiluun akan melintasinya seperti angin, buddala seperti burung terbang dalam waktu singkat, syuhada akan melintasnya seperti kuda yang kencang larinya, hujjaaj akan melintasinya dalam jangka waktu sehari, muthi’uun akan melintasnya dalam waktu sebulan, ‘ashuun setiap kali meletakkan kaki kepada sirat maka dosa-dosanya yang dipikul menyebabkan hampir menggelincirkannya ke neraka, sedangkan api neraka sudah akan membakarnya.

Tetapi cahaya iman yang memancar dari hatinya berhasil mengusir kobaran api neraka itu, sehingga api itu berkata “Berlalulah wahai mukmin, karena cahayamu telah memadamkan api nyalaku.(*/Du)

Loading...