MAU NYENYAK TIDUR, TIDURLAH BERSAMA PASANGAN AKAN LEBIH LELAP

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

JAKARTA – Sebuah penelitian baru menemukan bahwa pasangan yang tidur bersama dapat membantu tidur lebih nyenyak dan lelap saat istirahat atau eye movement sleep (REM).

Kondisi REM adalah salah satu tahap paling penting dari tidur dan dibutuhkan oleh tubuh untuk mengkonsolidasikan ingatan, mengatur emosi dan memecahkan masalah.

Penelitian menemukan, pasangan memiliki periode REM kurang terfragmentasi dan lebih lama tidak terganggu ketika tidur bersama daripada ketika mereka tidur sendirian. Pasangan yang tidur bersama juga menyinkronkan pola tidur mereka, yang menurut peneliti merupakan tanda kepuasan dan kedalaman hubungan.

Dilansir CNN, semakin tinggi peserta menilai pentingnya hubungan dengan kehidupan mereka, semakin kuat sinkronisasi tidur dengan pasangan mereka.

Pada dasarnya tubuh berputar melalui empat fase tidur yang berbeda untuk memulihkan diri sepenuhnya. Di tahap satu, Anda mulai tidur dengan ringan dan terlepas dari lingkungan di tahap kedua, di mana akan menghabiskan sebagian besar waktu tidur total Anda.

Tahapan tiga dan empat berisi tidur yang paling dalam, paling memulihkan dan kondisi REM yang melamun, atau eye movement sleep. Tahap REM dapat terjadi kapan saja selama periode itu, tetapi rata-rata, itu dimulai sekitar 90 menit setelah Anda tertidur. Inilah saatnya tubuh dan otak sibuk menyimpan ingatan, mengatur suasana hati dan belajar. Itu juga terjadi saat Anda bermimpi. Otot lengan dan kaki lumpuh untuk sementara waktu selama tidur REM.

Karena tidur nyenyak membuat siklus tidur berulang, Anda akan menjalani beberapa siklus REM, yang menghabiskan sekitar 25% dari total waktu tidur. Tahap penting lainnya dari tidur adalah tidur nyenyak, ketika gelombang otak melambat menjadi apa yang disebut gelombang delta atau tidur gelombang lambat. Ini adalah waktu ketika memori diproses lebih lanjut, otot diperbaiki, sistem kekebalan dipulihkan dan otak membuat neuron baru.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychiatry ini melibatkan selusin pasangan heteroseksual muda dan sehat ke laboratorium tidur, menghubungkan mereka dengan semua perlengkapan pemantauan tidur dan meminta mereka untuk tidur selama empat malam, baik berduaan maupun dengan pasangan mereka.

Analisis ini menggunakan polisomnografi simultan ganda. “Metode yang sangat tepat, terperinci dan komprehensif untuk menangkap tidur di berbagai tingkatan dari gelombang otak hingga gerakan, pernapasan, ketegangan otot, gerakan, aktivitas jantung,” kata Dr. Henning Johannes Drews, seorang dokter kedokteran di Pusat Psikiatri Integratif, Christian-Albrechts-Universit├Ąt di Kiel, Jerman.

Pasangan yang tidur bersama mengalami peningkatan gerakan tungkai, tetapi tampaknya tidak memengaruhi kualitas tidur otak. Walaupun penelitian ini kecil dan masih banyak penelitian yang perlu dilakukan, Drews menjelaskan, tidur dengan pasangan memberi Anda dorongan ekstra mengenai kesehatan mental, ingatan Anda, dan keterampilan pemecahan masalah yang kreatif.(*/Tya)

Loading...