DUA PERISTIWA DI DZATU AR-RIQA

visit indonesia
&80 x 90 Image
Spread the love

Nabi Muhammad SAW merupakan contoh pemimpin yang berani di medan peperangan. Tidak pernah dirinya meninggalkan pasukan saat sedang berperang. Keberanian yang ditunjukkan beliau menjadi pelecut semangat kaum Muslimin untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Para sahabat memiliki watak pantang menyerah. Di kancah perjuangan fii sabilillah, mereka adalah prajurit yang selalu setia di sisi Rasulullah SAW, melindunginya dan menaati setiap perintahnya. Sikap itu menjadi salah satu faktor utama di balik kemenangan umat Islam dalam berbagai pertempuran.

Salah satu medan jihad yang pernah diikuti Nabi SAW ialah Ekspedisi Dzatu ar-Riqa’. Misi itu terjadi pada tahun ketujuh Hijriah, yakni beberapa saat setelah Benteng Khaibar berhasil ditaklukkan. Dalam perang ini, kaum Muslimin berhadapan dengan kaum musyrikin dari Suku Ghatafan.

Orang-orang Ghatafan menghuni kawasan lembah antara Jabal al-Abyadh dan Buraydah di Najd, Arab tengah. Dalam Perang Ahzab dahulu, mereka ikut bersekutu dengan kaum kafir Makkah untuk mengepung Kota Madinah. Saat Perang Khaibar terjadi, para pemimpinnya pun sempat mengirimkan bantuan kepada orang-orang Yahudi yang mengkhianati Muslimin.

Meskipun pertahanan Yahudi di Khaibar telah jatuh, Kabilah Ghatafan justru bersikeras ingin menyerang Madinah. Karena itu, Rasulullah SAW memilih keluar dari kota agar bisa langsung menyongsong kedatangan mereka.

Beliau memimpin sendiri pasukan Muslimin yang bergerak menuju perkampungan Ghatafan. Banyak ahli sejarah Islam menilai, Nabi SAW sengaja melakukan hal itu supaya kubu musuh mengetahui siapa sebenarnya yang sedang mereka hadapi.

Hasilnya, masyarakat Ghatafan malah dirundung ketakutan. Padahal, mereka unggul dalam hal jumlah tentara dan persenjataan. Sementara itu, pasukan Muslimin yang baru saja keluar dari Khaibar tetap bersemangat mengikuti Rasulullah SAW.

Mengetahui bahwa orang-orang Ghatafan telah mundur teratur, beliau bersabda, “Aku ditolong dengan rasa takut (yang dimasukkan Allah ke dalam hati musuh) dalam jarak tempuh satu bulan.”

Akhirnya, beliau dan para pengikutnya kembali ke Madinah. Ekspedisi ini dinamakan Dzatu ar-Riqa’ karena banyak prajurit Muslim membalut kakinya yang telah luka-luka dengan potongan-potongan kain (riqa’). Dalam keadaan sukar pun, mereka tetap setia menemani Nabi SAW.

Ekspedisi ini dinamakan Dzatu ar-Riqa’ karena banyak prajurit Muslim membalut kakinya yang telah luka-luka dengan potongan-potongan kain.

SHARE
Dengan menyimak latar belakang Ekspedisi Dzatu ar-Riqa’ itu, anggapan orang-orang yang menuduh bahwa Rasulullah SAW gemar berperang atau menyebarkan Islam dengan jalan kekerasan pun terpatahkan. Apalagi, dalam peristiwa tersebut ada dua kejadian yang mencerminkan akhlak dan kehormatan Islam.

Yang pertama terjadi pada diri Nabi SAW sendiri. Waktu itu, rombongan Muslimin dalam perjalanan pulang dari sekitar perkampungan Ghafatan. Di sebuah daerah, mereka istirahat terpisah di bawah teduhnya pohon-pohon sekitar. Rasulullah SAW pun ikut berteduh. Beliau menggantungkan pedangnya di pohon.

Tiba-tiba, seorang badui datang mengambil pedang tersebut dan menodongkannya ke leher Nabi SAW. Orang musyrik ini lantas menggertak beliau, “Apakah kau takut denganku?”

“Tidak.”

“Siapa yang akan melindungimu?” tanya orang itu lagi.

“Allah,” jawab Nabi SAW singkat.

Tiga kali si badui mengulangi pertanyaannya. Tangannya tetap menghunuskan pedang ke leher Rasulullah SAW. Namun, beliau tetap tenang, sama sekali tidak menyiratkan wajah ketakutan. Akhirnya, pedang tersebut jatuh. Nabi SAW mengambil kembali pedangnya dan mengarahkan benda itu ke si pengancam.

“Sekarang, siapa yang akan melindungimu?” tanya beliau.

“Tidak ada,” jawab badui tersebut gemetar.

Rasulullah SAW lalu menyarungkan pedangnya dan berkata kepada lelaki itu, “Apakah kau mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah?”

“Aku lebih suka tidak berpihak pada kaum yang memerangimu dan tidak pula memerangimu,” jawab pria itu.

Nabi SAW lalu membiarkannya pergi. Menurut riwayat Ahmad, lelaki tersebut pulang dalam keadaan selamat menemui keluarganya dan menyatakan, “Aku baru saja menemui seorang manusia terbaik.”

Peristiwa kedua juga terjadi ketika Muslimin dalam perjalanan pulang dari Ghatafan. Adalah Ubbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir yang mengalaminya. Saat malam tiba, mereka ditugaskan Nabi SAW untuk berjaga-jaga. Keduanya lalu sepakat membagi waktu (shift).

Separuh malam menjadi jadwal Ubbad untuk berjaga, sedangkan sebagian lainnya hingga subuh menjelang dijaga Ammar. Saat Ubbad bertugas, sahabat dari kalangan Anshar ini mengisi waktu dengan shalat malam. Sementara itu, kawannya dari golongan Muhajirin itu tidur dalam tenda.

Saat Ubbad sedang shalat, seorang mata-mata Ghatafan menghujaninya dengan anak panah. Sahabat Nabi SAW ini tidak membatalkan shalatnya. Ia dengan sikap biasa mencabut setiap panah yang menancap di tangan dan kakinya. Barulah sesudah itu, dirinya melakukan rukuk, sujud, dan salam.

Begitu shalatnya selesai, ia pun membangunkan Ammar. Terkejutlah lelaki Muhajirin ini menyaksikan badan Ubbad bercucuran darah.

“Mengapa engkau tidak membangunkanku saat kau dilempari panah?”

“Sungguh, aku sedang menikmati surah yang kubaca dalam shalat. Aku tak senang bila tidak menyelesaikannya,” jawab Ubbad.

Ia mengaku sengaja tidak langsung rukuk dan sujud saat shalat barusan agar dirinya tetap sigap menjaga pos dari serangan musuh. Sebab, itulah amanah dari Rasulullah SAW.

Si penyerang tidak diketahui rimbanya. Yang jelas, ia telah menyaksikan sendiri bagaimana keteguhan dan keberanian para sahabat dalam membela kehormatan agama dan menjaga Nabi Muhammad SAW.(*/Fir)

Loading...